Tanker Minyak Iran Diperkirakan Bisa Terbakar selama Sebulan

Fajar Nugraha    •    Rabu, 10 Jan 2018 12:35 WIB
kecelakaan kapal
Tanker Minyak Iran Diperkirakan Bisa Terbakar selama Sebulan
Kapal tanker Iran yang terbakar di Laut China Timur (Foto: AFP).

Seoul: Kapal tanker milik Iran yang terbakar di Laut China Timur, dikhawatirkan bisa dilalap api selama satu bulan.
 
Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan (Korsel) menyebutkan, api sudah memenuhi kapal hingga empat hari. Insiden ini terjadi usai tabrakan antara kapal tanker tersebut dengan sebuah kapal kargo.
Puluhan kapal penyelamat harus berkutat melawan angin kencang, gelombang tinggi dan asap beracun yang membumbung tinggi. Mereka harus bekerja keras menyisir wilayah hingga 3.100 kilometer per segi dan ditengah kekhawatiran kapal akan meledak.
 
"Kami meyakini bahwa api bisa bertahan hingga dua minggu atau bahkan hingga satu bulan. Ini berdasarkan kasus kecelakaan serupa yang pernah terjadi sebelumnya," ujar pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan Korsel, Park Sung-dong, seperti AFP, Rabu 10 Januari 2018.
 
"Apa yang menjadi kekhawatiran kami adalah tempat penyimpanan minyak, yang bisa mencemari air jika kapal itu tenggelam," imbuhnya.
 
Kapal tanker bernama Sanchi itu dioperasikan oleh National Iranian Tanker Co, bertabrakan dengan kapal kargo CF Crystal pada Sabtu 6 Januari 2018. Kapal kargo itu bermuatan gandum dari Amerika Serikat (AS) dan bertabrakan sekitar 300 kilometer wilayah perairan Tiongkok yang berdekatan dengan Shanghai.
 
Sanchi sendiri membawa 136 ribu ton kondesat, atau sebuah minyak mentah berkualitas rendah yang mudah terbakar dengan tujuan Korsel. Isi dari muatan itu diperkirakan memiliki nilai hingga USD60 juta.
 
Usai tabrakan ini, Pemerintah Tiongkok menegaskan pada Selasa 9 Januari bahwa tidak ditemukan adanya kebocoran minyak secara meluas. 



(FJR)

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

1 day Ago

Myanmar menyanggupi akan menyediakan tempat penampungan sementara bagi Rohingya yang kembali.

BERITA LAINNYA