Krisis Nuklir 2011, Jepang Diminta Bayar Kompensasi Penduduk Fukushima

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 10 Oct 2017 18:02 WIB
nuklir
Krisis Nuklir 2011, Jepang Diminta Bayar Kompensasi Penduduk Fukushima
Fasilitas nuklir di Fukushima, Jepang. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Fukushima: Pemerintah Jepang dan operator pembangkit nuklir Fukushima diminta membayar USD4,5 juta kepada ribuan penduduk yang menuntut kompensasi atas krisis nuklir 2011. Ribuan penduduk ini meminta ganti rugi karena kehilangan tempat tinggal.

Pengadilan Distrik Fukushima memutuskan pemerintah telah gagal memerintahkan Tokyo Electric Power Co untuk memperbaiki standar keselamatan di sana. Padahal, mereka mengetahui risiko tsunami besar di wilayah tersebut sejak 2002.

Sebanyak 3.800 penggugat menuntut pembayaran kompensasi sejak 2015. Mereka membentuk kelompok besar dengan memberikan 30 tuntutan.

Dikutip dari laman Associated Press, Selasa 10 Oktober 2017, putusan ini merupakan yang kedua kalinya dikeluarkan Pengadilan Distrik Fukushima.

Pengadilan menguatkan argumen penggugat bahwa bencana tersebut dapat dicegah jika kementerian ekonomi dan industri memerintahkan Komisi Perencanaan Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi (TEPCO) untuk memindahkan generator diesel darurat dari ruang bawah tanah ke tempat yang lebih tinggi. 

Mereka juga bisa memerintahkan untuk membuat bangunan reaktor sejuk sesuai data tahun 2002, yang menyebutkan adanya risiko tsunami setinggi 15,7 meter.

Penggugat juga berpendapat jika TEPCO mengabaikan kesempatan lain untuk menerapkan langkah keselamatan. "Pada 2008, sebuah kelompok studi padahal sudah memperingatkan akan ada tsunami besar yang memicu pemadaman listrik di sana," ujar seorang penggugat.

Tsunami melanda pabrik nuklir itu pada 11 Maret 2011. Akibatnya, sistem pendingin reaktor rusak dan menghancurkan generator cadangan yang bisa membuatnya tetap berjalan dan menjaga agar bahan bakar nuklir tetap stabil.

Pemerintah dan pihak otoritas lain berpendapat tsunami setinggi itu tidak dapat diantisipasi dan kecelakaan tidak bisa dihindari.



(WIL)