Tiongkok Sahkan UU Ancaman Penjara bagi Penghina Lagu Kebangsaan

Arpan Rahman    •    Minggu, 05 Nov 2017 20:06 WIB
politik tiongkok
Tiongkok Sahkan UU Ancaman Penjara bagi Penghina Lagu Kebangsaan
Seorang aktivis pro demokrasi Hong Kong ditangkap aparat kepolisian. (Foto: EPA)

Metrotvnews.com, Beijing: Tiongkok membuat undang-undang terbaru, dengan ancaman hukuman hingga tiga tahun penjara bagi warga yang tidak menghormati lagu kebangsaan. Aturan ini dibuat demi menyatukan "impian patriotik Tiongkok" Presiden Xi Jinping.

UU baru tersebut kemungkinan akan membuat warga Hong Kong dan Makau waspada. Masyarakat di dua wilayah otonom itu mulai khawatir Beijing mulai memperkuat pengaruhnya.

Beberapa penggemar sepakbola Hong Kong mencemooh lagu kebangsaan Tiongkok dalam kualifikasi Piala Dunia dan laga lainnya.

Aktivis pro-demokrasi cemas UU terbaru digunakan untuk merongrong kebebasan berbicara dan melakukan demonstrasi.

Warga Hong Kong dan Makau tidak secara langsung terikat pada UU baru Tiongkok yang disahkan pada Sabtu 4 November. Ini dikarenakan dua wilayah otonom itu memiliki sistem hukum sendiri.

Tapi sebuah keputusan terpisah berisi ancaman 15 hari penjara bagi warga yang tidak menghormati bendera Tiongkok. Aturan ini masuk dalam konstitusi Hong Kong dan Makau yang dinamakan Basic Law.

Impian Xi Jinping

"Kadang-kadang ketika lagu kebangsaan dimainkan di Jockey Club, banyak orang tidak berdiri," kata Li Fei, ketua komite Basic Law, seperti dikutip South China Morning Post

"Ini harus berubah setelah UU baru berlaku," cetusnya, seperti dinukil Guardian, Minggu 5 November 2017.

Aturan baru ini ditujukan kepada siapa saja yang dianggap secara "serius" tidak menghormati lagu kebangsaan atau bendera negara.

Langkah tersebut berlanjut setelah Xi, bulan lalu, memperkuat posisinya sebagai pemimpin paling kuat di negara itu sejak Mao Zedong. Ia melanjutkan masa jabatan kedua dalam lima tahun sebagai pemimpin partai.

Xi sudah menyerukan "impian patriotik Tiongkok" untuk sebuah negara yang lebih makmur dan berkuasa dalam visi politiknya. Ia juga berjanji memperluas kemakmuran dan memulihkan prestise internasional. 

Tapi di dalam negeri, Xi hanya sedikit menerapkan visi kemajuan dan terus mendorong kultus kepribadian serta membungkam perbedaan pendapat.



(WIL)