TNI Kirim Kopassus untuk Jaga KBRI Kabul

Sonya Michaella    •    Rabu, 20 Dec 2017 17:43 WIB
kemenlupanglima tni
TNI Kirim Kopassus untuk Jaga KBRI Kabul
Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. (Foto: Sonya Michaella).

Jakarta: Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan mengirimkan pasukan Kopassus untuk menjaga perwakilan Indonesia di Kabul, Afghanistan.
 
Pengiriman ini berjalan di bawah Memorandum of Understanding (MoU) yang disepakati oleh Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.
 
"Kerja sama ini merupakan salah satu pengabdian negara untuk para WNI kita di Kabul yang memang rawan konflik dan juga berbahaya. Tak hanya itu, kita juga harus menjaga para diplomat kita dan bangunan KBRI yang merupakan simbol dari Indonesia," kata Menlu Retno ketika ditemui di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Rabu 20 Desember 2017.
 
Menlu Retno menambahkan, pihak pemerintah Afghanistan juga sudah mengizinkan Indonesia menaruh anggota TNI-nya di KBRI Kabul.
 
"Tapi ini bukan pertama kalinya kita bekerja sama dengan TNI. Pada waktu saya masih menjadi Dubes di Belanda, ada empat Kopasus yang bertugas di sana," ujar dia lagi.
 
Pembicaraan tentang kesepakatan pengiriman TNI ke KBRI Kabul ini pun diakui sudah terbentuk sejak 2016 lalu. 
 
Senada dengan Menlu Retno, Panglima Hadi juga berkomitmen untuk menjaga para WNI dan diplomat di KBRI Kabul.
 
"Untuk antisipasi keadaan pasca serangan di kompleks-kompleks diplomat di Kabul selama 2017 serta meluasnya penguasaan Taliban dan ISIS di Kabul, perlu pengawalan TNI untuk KBRI Kabul," ungkap Panglima.
 
Terpanggilnya TNI jelas akan turun untuk menjaga perwakilan RI di daerah rawan dan berbahaya. "Kita sudah menyiapkan personel-personel terbaik kita untuk ditempatkan di Kabul,” tegas Panglima lagi.
 
Sementara itu, saat ini pengiriman TNI masih berada di area Afghanistan. Untuk wilayah-wilayah konflik lain, hal itu akan dipersiapkan dengan melihat parameter tingkat berbahayanya sebuah negara konflik.



(FJR)