Jepang Harap Ada Kebebasan Navigasi di Laut China Selatan

Sonya Michaella    •    Senin, 04 Jun 2018 14:09 WIB
laut china selatanindonesia-jepang
Jepang Harap Ada Kebebasan Navigasi di Laut China Selatan
Kapal latih Jepang mengunjungi Indonesia (Foto: Sonya Michaella).

Jakarta: Melintasi Laut China Selatan, kapal perang Jepang bernama Kashima dan Makinami berlayar dari Jepang menuju ke Indonesia. Jakarta menjadi tempat singgah pertama dua kapal ini.
 
Terkait dengan ekskalasi di perairan internasional tersebut, Komandan Skuadron Latih, Laksamana Muda Izumi Hiroyuki mengatakan, negaranya mendukung kebebasan navigasi di Laut China Selatan.
 
"Saya harap ada kebebasan navigasi di Laut China Selatan. Kami juga tentu akan terus bekerja sama dengan Indonesia untuk menciptakan perdamaian," kata Hiroyuki, ketika ditemui di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin 4 Juni 2018.
 
Selain itu, terkait dengan Indo Pasifik, Hiroyuki terlihat sangat optimistis. Angkatan Laut Jepang juga berencana untuk meningkatkan kerja sama dengan sejumlah negara kawasan.
 
"Itu sangat penting. Konsep Indo Pasifik sangat bagus. Kerja sama dengan Indonesia di bidang maritim akan terus kami tingkatkan tentunya untuk kebebasan navigasi di perairan itu tercapai," ujar dia.
 
Kapal Kashima (kapal latih) dan Makinami (kapal penghancur) berlayar dari Yokosuka, Jepang pada 21 Mei yang lalu dengan membawa kurang lebih 600 awak kapal dan 119 perwira muda.
 
Indonesia menjadi tempat singgah pertama karena dianggap sebagai negara maritim terbesar di kawasan ini.
 
Setelah Indonesia, pada 8 Juni nanti, Kashima dan Makinami akan berlayar ke Uni Emirat Arab dan singgah di dua pelabuhan. Setelah itu, kapal ini akan melanjutkan perjalanan ke Bahrain, Arab Saudi.
 
Usai kawasan Timur Tengah, Kashima dan Makinami akan singgah di empat negara Eropa yaitu Swedia, Finlandia, Inggris, dan Spanyol.
 
Perjalanan akan dilanjutkan ke Meksiko, Honolulu dan Norfork di Amerika Serikat setelah sebelumnya akan melewati Terusan Suez dan Terusan Panama.
 
Dua kapal ini bakal mengelilingi dunia selama kurang lebih lima bulan dan akan kembali ke Yokosuka pada 30 Oktober 2018.


(FJR)