Bank Dunia Sediakan Rp5 Triliun untuk Bantu Pengungsi Rohingya

Antara    •    Jumat, 29 Jun 2018 17:18 WIB
pengungsi rohingya
Bank Dunia Sediakan Rp5 Triliun untuk Bantu Pengungsi Rohingya
Pengungsi Rohingya (Foto:AFP)

Washington: Bank Dunia pada Kamis mengatakan akan menyediakan hingga 480 juta dolar AS (Rp5 triliun lebih) sebagai dukungan berbentuk hibah kepada Bangladesh untuk memenuhi kebutuhan pengungsi Rohingya, termasuk kesehatan, pendidikan, air, kebersihan dan perlindungan umum.

Dewan Bank Dunia menyetujui hibah 50 juta AS (lebih dari 500 miliar rupiah) untuk ditambahkan pada kegiatan dukungan bidang kesehatan di Bangladesh, yang pertama dalam rangkaian, yang bisa mencapai 480 juta dolar.

Hibah bidang kesehatan termasuk iuran berdasarkan atas kemitraan Kanada dengan sayap Bank Dunia, Perhimpunan Pembangunan Antarbangsa.

Itu akan membantu pengungsi Rohingya di Bangladesh menerima layanan gizi dan kesehatan ibu, bayi baru lahir, bayi, anak-anak, dan remaja, perawatan kesehatan reproduksi dan dukungan keluarga berencana, kata Bank Dunia.

Dukungan IDA itu, dana bank itu untuk negara termiskin di dunia, akan mencakup hingga 400 juta dolar (empat triliun rupiah lebih) hibah untuk membantu Bangladesh mengatasi masalah tersebut, kata bank itu.

Sejak Agustus lalu, lebih dari 700.000 warga Rohingya berlindung dari kekerasan di Myanmar di kabupaten Cox's Bazar di Bangladesh, menjadikannya kampung terbesar dan peningkatan tercepat pengungsi di dunia.

"Kami sangat tersentuh oleh penderitaan warga Rohingya dan siap membantu mereka hingga mereka kembali ke rumah dengan aman, sukarela, dan bermartabat," kata Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, seperti dilansir  Antara, Jumat 29 Juni 2018.

Dia menambahkan bahwa bank itu juga akan mendukung rakyat Bangladesh.

Menteri Pembangunan Antarbangsa Kanada Marie-Claude Bibeau dalam pernyataan mengatakan bahwa untuk setiap dolar sumbangan Kanada, lima dolar hibah tambahan akan diberi untuk mendukung layanan kesehatan, gizi dan kependudukan bagi pengungsi.

Kim dan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres dijadwalkan mengunjungi Bangladesh pada 1-2 Juli untuk menilai keparahan bencana kemanusiaan itu dan membahas yang bisa dilakukan lagi. 


(WAH)