Separatis Rakhine Serang Pos Polisi Myanmar

Fajar Nugraha    •    Jumat, 04 Jan 2019 19:08 WIB
konflik myanmarmyanmar
Separatis Rakhine Serang Pos Polisi Myanmar
Militer Myanmar melakukan penjagaan di sekitar perbatasan. (Foto: AFP).

Yangon: Kelompok pemberontak Rakhine melakukan serangan ke empat kantor polisi di dekat perbatasan Bangladesh. Militer Myanmar mengatakan bahwa kelompok itu mengklaim telah menahan 14 orang sebagai sandera.

Negara barat telah melihat meningkatnya gelombang kekerasan dalam beberapa pekan terakhir antara pemberontak dari Arakan Army (AA) dan pasukan keamanan. Kekerasan itu telah memaksa ribuang orang tergusur dari tempat tinggalnya.

Ini telah menambahkan dimensi baru pada kekerasan di negara bagian yang sudah dilanda permusuhan etnis dan agama yang mendalam, yang menyebabkan ratusan ribu Muslim Rohingya dipaksa melewati perbatasan dengan tindakan keras militer berdarah pada 2017.

Arakan Army menyerukan otonomi yang lebih besar bagi populasi etnis Budha Rakhine di salah satu negara termiskin di negara itu. Serangan pada Jumat ini terjadi di kota Buthidaung di utara negara bagian Rakhine.

"Kami dapat mengkonfirmasi bahwa serangan terhadap empat kantor polisi itu dilakukan oleh AA," kata Juru Bicara militer Brigadir Jenderal Zaw Min Tun kepada AFP, Jumat, 4 Januari 2019.

"Kami tidak memiliki informasi tentang korban. Tentara segera mengirim tim pendukung untuk menggapai pelaku penyerangan,” imbuhnya.

Namun kelompok itu mengatakan dalam sebuah posting di Facebook bahwa mereka ‘menahan 14 tawanan perang’ ketika sedang ditembaki oleh dua helikopter tentara, tanpa mengaitkan insiden itu dengan serangan terhadap kantor-kantor polisi.

Badan kemanusiaan PBB mengatakan, Kamis, pihaknya prihatin dengan perkiraan 2.500 orang yang saat ini mengungsi, banyak di antaranya berlindung di biara-biara lokal.

Arakan Army dikesampingkan oleh gencatan senjata sementara yang tak terduga diumumkan secara sepihak oleh militer Myanmar dua minggu lalu. Pihak militer Myamar bersumpah untuk berhenti bertarung selama empat bulan melawan sejumlah kelompok bersenjata di negara bagian Kachin dan Shan di sisi lain negara itu.

Pemimpin sipil Myanmar Aung San Suu Kyi menjadikan proses perdamaian sebagai prioritas ketika partainya meraih kekuasaan dalam pemilihan penting tahun 2015. Namun puluhan konflik terus membumbung di sekitar wilayah perbatasan negara itu, banyak diantara konflik ini berujung pada era kemerdekaan 70 tahun yang lalu.

Pihak Arakan Army mengatakan militer menggunakan gencatan senjata di tempat lain untuk memfokuskan upaya pada Rakhine. Namun para pengamat mengatakan belum ada pemindahan pasukan utama yang terjadi.


(FJR)