PM Jepang akan Kunjungi Rusia Bulan Depan

Willy Haryono    •    Senin, 20 Mar 2017 23:33 WIB
politik jepang
PM Jepang akan Kunjungi Rusia Bulan Depan
PM Jepang Shinzo Abe melambaikan tangan di Tokyo, 16 Maret 2017. (Foto: Reuters)

Metrotvnews.com, Tokyo: Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe akan mengunjungi Rusia bulan depan untuk berdialog dengan Presiden Vladimir Putin. 

Seperti dilansir Reuters, Senin 20 Maret 2017, tujuan kunjungan adalah melanjutkan usaha mengakhiri sengketa wilayah dua negara dan menyepakati perjanjian damai. 

PM Abe telah bertekad menyelesaikan sengketa wilayah atas serangkaian pulau kecil di Pasifik barat yang direbut pasukan Uni Soviet di akhir Perang Dunia II. Ia berharap setelah masalah sengketa selesai, Jepang dapat menjalin hubungan yang lebih baik dengan Rusia. 

Masalah sengketa wilayah menjadi satu-satunya penghambat Jepang dan Rusia dalam menyepakati perjanjian damai. 

Berbicara dalam konferensi pers gabungan dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov dan pertemuan terpisah dengan beberapa menteri, Menlu Jepang Fumio Kishida berkata: "Kami sepakat mempercepat persiapan pertemuan."

Dalam kunjungan Putin ke Jepang pada Desember, kedua negara sepakat melanjutkan dialog keamanan "two-plus-two" yang sempat dibekukan setelah Rusia menganeksasi Krimea dari Ukraina pada 2014. 

"Saya yakin kelanjutan dialog two-plus-two akan mengangkat hubungan Rusia dan Jepang ke level baru, dan meningkatkan kerja sama keamanan di kawasan dan global," tutur Lavrov. 

Lavrov mengatakan Rusia dan Jepang juga sepakat menyerukan Korea Utara untuk menghentikan provokasi uji coba nuklir dan misil balistik. 

Pada akhir pekan kemarin, Korut mengklaim telah berhasil menguji coba mesin roket terbaru. Sejumlah analis mengatakan tes tersebut merupakan kemajuan berbahaya dari Korut yang ingin mengembangkan roket untuk menghantam daratan utama Amerika Serikat. 


(WIL)

Polisi Inggris Rilis Foto Penyerang Westminster

Polisi Inggris Rilis Foto Penyerang Westminster

20 hours Ago

Khalid Masood, warga Inggris 52 tahun dengan riwayat pelanggaran kekerasan tapi diyakini bukan…

BERITA LAINNYA