Bangladesh Desak Myanmar Segera Lindungi Rohingya

Arpan Rahman    •    Kamis, 24 Nov 2016 17:29 WIB
konflik myanmar
Bangladesh Desak Myanmar Segera Lindungi Rohingya
Keluarga Rohingya berhasil melarikan diri dari Myanmar dan tinggal di sebuah kamp pengungsian di Teknaf, Bangladesh, 24 November 2016. (Foto: AFP/MUNIR UZ ZAMAN)

Metrotvnews.com, Teknaf: Otoritas Dhaka telah meminta Myanmar mengambil "langkah-langkah darurat" demi melindungi minoritas Rohingya setelah ribuan dari mereka menyeberang ke Bangladesh hanya dalam beberapa hari. Mereka mengaku militer Myanmar telah membakar pedesaan dan memperkosa gadis-gadis remaja.

Sejumlah pasukan Bangladesh sudah diterjunkan ke lokasi di sepanjang perbatasan, yang sebagian besar dihuni warga-tanpa-kewarganegaraan minoritas Muslim Rohingya sejak terjadinya serangkaian serangan terkoordinasi dan mematikan di pos-pos polisi perbatasan, bulan lalu.

Menurut PBB, lebih dari 30.000 penduduk Rohingya dipaksa meninggalkan rumah mereka, yang mendesak Bangladesh membuka perbatasannya. Pemerintah Bangladesh menyatakan, ribuan pelarian sudah memasuki negara itu dan ribuan lainnya dilaporkan berkumpul di perbatasan.

Dilansir Deccan Chronicle, Kamis (24/11/2016), Kementerian Luar Negeri Bangladesh telah memanggil duta besar Myanmar, Rabu 23 November malam, untuk mengungkapkan "keprihatinan mendalam" pada situasi kemanusiaan di negara bagian Rakhine barat.


Prajurit Myanmar bersiaga di perbatasan Bangladesh. (Foto: AFP) 

"Meskipun penjaga perbatasan kami berupaya lembut untuk mencegah mereka masuk, ribuan warga Myanmar yang tertekan, termasuk perempuan, anak-anak, dan orang tua terus menyeberangi perbatasan ke Bangladesh," kata pihak Kemenlu Bangladesh.

"Ribuan lebih penduduk Rohingya telah dilaporkan berkumpul di perbatasan," katanya, sembari menyerukan "tindakan yang tepat mendesak agar minoritas Muslim tidak dipaksa mencari perlindungan di seberang perbatasan."

Banyak dari mereka yang mencari perlindungan di Bangladesh, mengatakan, mereka telah berjalan selama berhari-hari dan menaiki perahu reyot demi menyeberang ke negara tetangga, di mana ratusan ribu pengungsi Rohingya yang terdaftar telah menetap selama beberapa dekade.

Sejak konflik terbaru berkobar, pemerintah sekuler Bangladesh berada di bawah tekanan kuat buat membuka perbatasannya untuk mencegah bencana kemanusiaan.

Sebaliknya, penjaga perbatasan Bangladesh telah mengintensifkan patroli dan penjaga pantai sudah mengerahkan armada kapal tambahan. Para pejabat mengatakan, mereka menghentikan sekitar seribu orang Rohingya di perbatasan, sejak Senin 21 November.

Seorang petani, Deen Mohammad, satu di antara ribuan pelarian yang menghindari patroli, menyelinap ke kota perbatasan Bangladesh dari Teknaf, empat hari lalu dengan istrinya, dua anak mereka, dan tiga keluarga lainnya.

Baca: Myanmar Tak Berusaha Sembunyikan Masalah Rohingya

"Mereka (militer Myanmar) mengambil dua anak laki-laki saya, berusia sembilan dan 12 tahun, ketika mereka memasuki desa saya. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada mereka," Mohammad, 50, bertutur kepada AFP.

"Mereka mengambil perempuan di kamar dan kemudian mengunci mereka dari dalam. Hingga 50 perempuan dan gadis-gadis asal desa kami disiksa dan diperkosa," tambahnya.

Mohammad berkata, rumah-rumah di desanya telah habis dibakar, kesaksian serupa bergema dari para pelarian baru lainnya.

Militer Myanmar membantah telah membumihanguskan desa-desa, tapi Human Rights Watch mengungkapkan bahwa dengan menggunakan citra satelit telah teridentifikasi 820 lebih bangunan hancur-lebur di lima desa Rohingya antara 10-18 November.


(WIL)