Thailand Cabut Empat Paspor Mantan PM Yingluck

Willy Haryono    •    Selasa, 31 Oct 2017 12:33 WIB
politik thailand
Thailand Cabut Empat Paspor Mantan PM Yingluck
Mantan PM Thailand Yingluck Shinawatra pada 17 Februari 2016. (Foto: AFP/NICOLAS ASFOURI)

Metrotvnews.com, Bangkok: Thailand telah mencabut paspor milik mantan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra, yang hingga kini belum muncul lagi ke hadapan publik usai melarikan diri ke luar negeri menjelang putusan pengadilan atas kasus kelalaian. 

Digulingkan dalam kudeta 2014, Yingluck divonis lima tahun penjara bulan lalu atas tuduhan gagal menghentikan penyelewengan dana terkait kebijakan beras negara. 

Keputusan pengadilan, yang otomatis menutup karier politik Yingluck, dikecam para pendukung setianya. 

"Semua paspor Yingluck telah dicabut," ungkap Menteri Luar Negeri Thailand Don Pramudwinai kepada awak media di Bangkok, seperti dikutip AFP, Selasa 31 Oktober 2017. 

"Kami belum mengetahui keberadaannya. Ada beberapa laporan yang menyebutkan dia berada di Inggris, tapi tidak tahu di kota mana," lanjutnya. 

Yingluck memiliki empat paspor Thailand -- dua berstatus personal dan sisanya diplomatik. 

Wakil Kepala Kepolisian Thailand Srivara Ransibrahmanakul mengatakan pihaknya masih berusaha mengonfirmasi lokasi terkini Yingluck. Setelah diketahui, Yingluck akan langsung diekstradisi. 

"Namun hingga sejauh ini belum ada negara yang mengaku pernah melihat Yingluck,"sebut Srivara. 

Baca: Korupsi, Mantan PM Thailand Divonis 5 Tahun Penjara

Dikenal sebagai tokoh yang aktif di media sosial, Yingluck seolah menghilang karena tidak mengunggah status apapun usai melarikan diri. Ia merupakan tokoh terbaru dari keluarga besar Shinawatra yang dijatuhkan kudeta militer Thailand.

Keluarga Shinawatra sangat populer di kawasan pegunungan di jantung negara Thailand, yang suaranya mendominasi pemilihan umum sejak satu dekade terakhir. Namun kalangan militer Thailand memandang Shinawatra sebagai para oportunis korup yang harus ditumbangkan.

Kakak Yingluck, Thaksin, telah digulingkan dalam kudeta pada 2006. Ia tinggal terasing selama bertahun-tahun untuk menghindari jeratan kasus korupsi. 

Junta militer yang kini berkuasa di Thailand bertekad menggelar pemilihan umum pada November 2018 untuk menghadirkan pemerintahan baru.

 


(WIL)