Suu Kyi Salahkan 'Teroris' atas Informasi Keliru soal Myanmar

Arpan Rahman    •    Rabu, 06 Sep 2017 16:54 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Suu Kyi Salahkan 'Teroris' atas Informasi Keliru soal Myanmar
Para pengungsi asal Rakhine menanti bantuan di kamp Kutupalong, Bangladesh, 5 September 2017. (Foto: AFP/K M ASAD)

Metrotvnews.com, Yangon: Aung San Suu Kyi menyalahkan "teroris" atas banyaknya "informasi keliru" mengenai kekerasan yang terus berlanjut di Myanmar barat, tepatnya di Rakhine. Kekerasan telah memaksa lebih dari 120.000 warga Rakhine -- sebagian besar etnis Rohingya -- mengungsi ke Bangladesh.

Pemimpin de facto Myanmar itu berada di bawah tekanan agar menghentikan operasi pasukan keamanan di Rakhine. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sudah memperingatkan bahwa Myanmar bisa saja disebut sedang melakukan pembersihan etnis.

Sebuah pernyataan dari kantor Aung San Suu Kyi di Facebook, Rabu 6 September, menyebutkan bahwa Suu Kyi telah berbicara dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengenai krisis di Rakhine. Erdogan menyebut kekerasan di Rakhine sebagai "genosida."

Suu Kyi mengatakan kepada Erdogan bahwa pemerintah Myanmar "membela semua orang di Rakhine dengan cara terbaik, dan menyatakan tidak boleh ada informasi keliru agar tidak timbul masalah antar kedua negara."

Dia merujuk pada "foto berita palsu" yang diunggah oleh Wakil Perdana Menteri Turki di Twitter, yang memperlihatkan sejumlah Rohingya yang tewas di Myanmar. Namun pada kenyataannya, foto itu adalah kejadian di tempat lain.

"Informasi palsu semacam itu yang ditunjukkan wakil perdana menteri hanyalah puncak dari gunung es kesalahan informasi yang keliru untuk menciptakan banyak masalah di antara komunitas berbeda. Tujuannya mempromosikan kepentingan para teroris," ucap kantor Suu Kyi, seperti dikutip Guardian, Rabu 6 September 2017.

Eksodus pengungsi terbaru dari negara bagian Rakhine dimulai pada 25 Agustus, setelah gerilyawan Rohingya menyerang puluhan pos keamanan.

Pihak berwenang Myanmar menanggapi serangan dengan operasi perburuan militan. PBB mengestimasi gelombang kekerasan di Rakhine telah menewaskan hingga 1.000 orang.

Gambar satelit menunjukkan bukti pembakaran sejumlah desa. Para pengungsi Rohingya di Bangladesh mengklaim bahwa desa mereka dibumihanguskan secara massal. Mereka juga menyebut badan-badan PBB dilarang menyalurkan bantuan kemanusiaan ke negara bagian itu dan wartawan dilarang masuk.

 


(WIL)