Wawancara khusus Dirjen Kerja Sama ASEAN Kemenlu RI

50 Tahun ASEAN, Kokoh di Kawasan dan Tatanan Global

Sonya Michaella    •    Selasa, 01 Aug 2017 17:09 WIB
asean
50 Tahun ASEAN, Kokoh di Kawasan dan Tatanan Global
Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Jose Tavares (Foto: Wahyu Dwi Anggoro/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Bulan depan, tepatnya Agustus, Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara atau biasa disebut ASEAN akan memasuki usia ke-50. Memperingati usia emas ini, ASEAN menggelar berbagai banyak acara dan juga kompetisi.
 
Tak hanya itu, Indonesia, sebagai salah satu pelopor terbentuknya ASEAN, mempunyai sejumlah harapan agar ASEAN terus maju dan berkembang lebih di kawasan serta global.
 
Berikut wawancara eksklusif Metrotvnews.com pada 24 Juli 2017, dengan Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Jose Tavares:
 
Bulan depan ASEAN memasuki usia 50 tahun, apa saja persiapannya dari Indonesia, khususnya dari Kementerian Luar Negeri?
 
Kementerian Luar Negeri bersama berbagai kalangan seperti universitas, think tank dan masyarakat akan mengadakan serangkaian kegiatan seperti ada parade ASEAN 50 Tahun, pemilihan duta muda ASEAN, pusat studi ASEAN Conference, workshop cerita sukses perusahaan Indonesia yang bergerak di kawasan ASEAN, debat internasional soal toleransi, ASEAN Youth Camp, serta sejumlah simposium. Tidak semata-mata hanya Kemenlu yang menggelar, namun banyak bekerja sama dengan sejumlah pihak.
 
Untuk perayaan ASEAN 50 Tahun di Jakarta, seperti apa?
 
Parade ASEAN 50 kita adakan pada 27 Agustus nanti. Acara ini akan diikuti negara anggota ASEAN serta negara-negara mitra, juga ada kalangan mahasiswa dan berbagai macam lembaga dan agency yang terkait. 
 
Nanti paradenya akan berbentuk drumband, kulinari, dan tari-tarian dari Monas ke Patung Sudirman lalu bergerak sedikit ke Wisma BNI, nah di situ ada pelataran khas ASEAN yang menyediakan kuliner 10 negara anggota.
 
Persiapannya sudah sampai mana sekarang?
 
Persiapan sudah cukup matang sejauh ini. Acara ini dibantu BUMN juga dan sejumlah bank.
 
Antusiasme sembilan negara anggota ASEAN lainnya, seperti apa?
 
Mereka antusias sekali. Mereka akan tampil dengan kostum negara masing-masing. Ada warga negara mereka juga yang ada di sini dan pelajar-pelajar yang memang sekolah di Indonesia, nanti pasti hadir. Untuk sekarang, sudah ada 2.000 sukarelawan untuk memeriahkan parade ini.


 
 
Di usia yang baru ini, apa harapan Indonesia untuk ASEAN?
 
Sebenarnya mengenai makna ASEAN 50 itu sendiri, saat ini ASEAN menyediakan satu platform untuk membahas itu isu apa saja, termasuk isu strategis di mana ASEAN bisa menciptakan platform yang handal di kawasan. 
 
Platform ini tak hanya dihadiri oleh negara-negara ASEAN, tapi juga negara-negara besar dan major power. Dunia luar saat ini penuh ketidakpastian, dan ASEAN hadir membawa sebuah kepastian dengan menghadirkan sebuah blueprint menuju ASEAN 2025. 
 
Harapan Indonesia tentu saja ASEAN harus berperan lebih baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat Asia Tenggara.
 
Dari pandangan Indonesia sendiri, apakah kesadaran masyarakat Asia Tenggara, khususnya masyarakat kita itu kurang paham dengan ASEAN?
 
Wilayah Indonesia ini sangat luas. Untuk memperdalam pengetahuan masyarakat, kita lakukan sosialisasi. 
 
Kemenlu sudah bergerak ke sekolah-sekolah sejak 10 tahun yang lalu. Ini tentu saja harus terus dilakukan, bukan saja bertatap muka langsung, karena sosialiasi sekarang bisa lewat media online dengan jaringan internet. 
 
Kita juga ada kompetisi video blogger (vlogger) soal pandangan masyarakat soal ASEAN dengan mengirimkan video pendek. Menurut saya, ini juga bentuk sosialiasi. Jadi, tidak hanya Kemenlu yang bergerak, ternyata masyarakat pun bisa bergerak untuk ASEAN.
 
Tantangan terbesar ASEAN menuju 50 tahun?
 
Masalah-masalah besar yang belum selesai seperti isu-isu strategis dan isu keamanan. Misalnya saja isu Laut China Selatan yang belum dapat diselesaikan dengan baik. 
 
Kalau untuk mengharapkan ASEAN dapat menyelesaikan isu ini, saya kita terlalu muluk. Karena ASEAN tidak diciptakan untuk menyelesaikan isu Laut China Selatan. 
 
Tetapi, ASEAN bisa menciptakan sebuah kondisi yang kondusif di mana negara-negara yang bersengketa bisa berunding di situ. Atau pula bisa saja melalui sejumlah kerja sama untuk menyelesaikan isu ini. Selain itu, masih ada masalah transnational crime. Kami harap ada kerja sama soal transnational crime antar negara ASEAN.
 
Pergerakan ASEAN sendiri seperti apa untuk menangani kasus Rohingya di Rakhine, Myanmar?
 
Lewat Indonesia yang sudah aktif menjembatani dan menyambungkan pemikiran, Menteri Luar Negeri RI ambil inisiasi untuk pertemuan antar menlu ASEAN untuk membahas kasus Rohingya pada Desember 2016. Itu kesempatan ASEAN untuk memberikan kontribusi dan menanggulangi masalah. Berbagai macam ide yang bisa diberikan untuk meredam konflik. 
 
Indonesia mengatakan harus dijagalah yang disebut Hak Asasi Manusia setempat dan inklusivitas pembangunan. Kita juga terus mendorong adanya update dari Myanmar ke ASEAN sehingga ada masukan dan solusi jalan keluar. 
 
Menlu juga mengambil inisiatif agar ada dialog masyarakat yang berbeda-beda agama supaya duduk bersama. Hal seperti ini akan lebih indah dan harusnya kita bekerja bersama-sama daripada menciptakan masalah yang sulit ditangani.
 
Untuk kasus Marawi, Filipina Selatan. Bagaimana ASEAN terus menghalau masuknya terorisme ke Asia Tenggara?
 
Kalau dari ASEAN, kita bisa lihat kerja sama counter terrorism itu ada dan diatur secara rinci. Kerja sama di perbatasan juga ada, apalagi kerja sama intelijen, dan yang tidak ketinggalan kerja sama untuk mencegah perpindahan militan asing. 
 
Payung kerja samanya itu ada. Tetapi, sekarang yang perlu dilakukan adalah kita bekerja sama di luar kawasan. Mungkin bisa saja dibangun hotline communication antara aparat negara untuk menangkal terorisme. 
 
Kita harus mencegah pergerakan ini dari luar negara ASEAN, agar tidak masuk ke dalam. Penerapan dari kerja sama itu juga harus dilakukan dengan baik. 
 
Apalagi sekarang kan juga sudah ada trilateral Indonesia, Filipina dan Malaysia. Semoga trilateral ini bisa mencegah masuknya terorisme, karena isu ini bisa merusak stabilitas kawasan. 
 
Untuk isu Laut China Selatan, bagaimana perkembangan Code of Conduct (coc) sampai saat ini?
 
Perkembangan rancangan CoC itu arahan dari Menteri Luar Negeri RI tahun lalu dan pertama kali diadakan di Bali. Arahan beliau, kita melakukan pertemuan informal untuk menggalang pandangan bersama agar masalah CoC yang tertunda 15 tahun ini bisa maju. 
 
Dari Bali, kita menghasilkan fondasi untuk kerangka CoC. Kerangka itu dibawa dan dielaborasi di mana ASEAN bertemu dengan China di Gunyang, China, untuk kerangka yang disepakati tingkat pejabat senior. Kerangka ini dapat disahkan oleh Menlu ASEAN dan China, bulan Agustus di Manila. Ini adalah lampu hijau untuk negosiasi dan elaborasi butir-butir di dalam kerangka tersebut.
 
Permasalahannya, kita mendorong China. Jadi, kita harus bersama-sama dengan China untuk menyusun itu. ASEAN tidak bisa memaksa negara lain apalagi negara sebesar China untuk melaksanakan kode tata perilaku di Laut China Selatan.
 
Kelebihan dari penyusunan CoC ini adalah China akhirnya mau membahas bersama. Negara tersebut mempunyai kewajiban  dengan apa yang nantinya dihasilkan.
 
Lalu, bagaimana pandangan negara-negara mitra ASEAN terhadap ASEAN sendiri?
 
ASEAN punya 11 negara mitra, di antaranya Selandia Baru, Australia, Jepang, Korea Selatan, Rusia, India, China, Amerika Serikat, Kanada, Uni Eropa dan PBB. Selain itu, ada mitra sektoral yaitu Pakistan, Swiss dan Norwegia. Ditambah mitra pembangunan yaitu Jerman.
 
Sekarang, ada sekitar 25 negara dan lima organisasi yang antre ingin bermitra dengan ASEAN. Sebenarnya, ASEAN kewalahan mau menerima kemitraan ini. Nah, indikator in menunjukkan bahwa ASEAN itu berhasil dan dihargai dari beberapa aspek, misalnya kontribusi keamanan dan stabilitas kawasan yang ternyata diakui di dunia internasional. Terbukti, lima tahun terakhir kawasan kita stabil.
 
Di sektor ekonomi, ASEAN juga akan mengeluarkan blueprint 2025 dan memiliki free trade area dengan enam negara. Selain itu, ada juga kerja sama komperehensif. Perhatian negara semua masuk ke ASEAN dan ingin bermitra untuk mendapatkan keuntungan. Ini membuktikan bahwa pandangan negara-negara besar terhadap ASEAN itu positif.
 
Ke depannya, ASEAN akan semakin besar dan diperhitungkan?
 
Betul. Sekarang saja ASEAN sudah mulai diperhitungkan. Kalau kita serius untuk melakukan apa yang sudah disepakati oleh semua stakeholder yang ada untuk meningkatkan komponen-komponen penting, seperti Sumber Daya Manusia, pembangunan, menggalakkan infrastruktur dan peraturan serta kerja sama yang baik, kita pasti bisa mengambil peluang yang besar lagi di kawasan. 
 

(FJR)