Menggempur Korut dengan Balon, Acara TV, dan Selebaran

Arpan Rahman    •    Rabu, 23 Aug 2017 18:07 WIB
korsel-korut
Menggempur Korut dengan Balon, Acara TV, dan Selebaran
Perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara yang selalu rawan (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Seoul: Beberapa orang melayangkan selebaran plastik berisi seruan untuk demokrasi. Atau gambar kartun buram mengejek penguasa Korea Utara (Korut). 
 
Sejumlah orang lainnya mengirim flash drive yang bermuatan opera sabun Korea Selatan (Korsel), atau mini dokumenter tentang kekayaan besar perusahaan-perusahaan di Selatan, atau uang dolar AS yang baru. Kadang-kadang terkirim bungkus makanan kosong, label sobek yang menunjukkan mie kukus dengan saus daging, sehingga warga Korut bisa melihat kehidupan yang baik bisa mereka temukan di Selatan.
 
Mereka adalah prajurit yang memproklamirkan diri dalam operasi senyap melawan Korut. Sebuah kumpulan aktivis yang beragam dan penuh warna yang terlibat dengan salah satu negara terisolasi di dunia -- kebanyakan menggunakan balon udara buatan sendiri.
 
Bagi kritikus di Korsel, mereka menjalankan kampanye tanpa pengetahuan dan mungkin tidak ada gunanya. Ada yang mencemooh mereka mirip orang-orang sinting yang haus perhatian, menghabiskan sebagian besar waktu buat bertengkar dengan yang lain.
 
Tapi para aktivis menatap ke seberang perbatasan. Melihat sebuah negara yang mereka percayai dapat mereka bentuk kembali.
 
"Cara tercepat untuk menjatuhkan rezim tersebut adalah mengubah pikiran rakyat," kata Park Sang Hak, pengungsi dari Utara yang sekarang mengelola kelompok Fighters for Free North Korea dari sebuah kantor kecil di Seoul.
 
Ia mengirim puluhan ribu selebaran plastik. Melintasi perbatasan setiap tahun. Khawatir akan pembalasan oleh Pyongyang, dia tidak ke mana-mana tanpa pengawalan polisi. 
 
"Orang-orang sudah bertanya-tanya tentang kehidupan mereka di sana," katanya, mengenai penyebaran informasi dari luar yang membiarkan rakyat tahu bahwa hidup lebih mudah dijalani di China dan Korsel.
 
Sebagian besar dari apa yang para aktivis kirim -- kartun satiris, atau opera sabun berkisah soal terbelenggu dalam cinta, kutukan, dan amnesia yang hilang --- sama sekali tidak berbahaya. 
 
Namun para ilmuwan dan pengungsi Korut mengatakan bahwa informasi dari luar telah membantu membawa banyak perubahan, dari bahasa gaul baru hingga perubahan mode sampai meningkatnya permintaan barang konsumen dalam ekonomi pasar yang meluas.
 
Sementara para aktivis sering tidak setuju mengenai apa yang harus dikirim ke Utara - beberapa percaya pada kartun sinis, yang lainnya dengan film dokumenter. Sisanya yakin selebaran politik yang menelanjangi kebohongan propaganda Pyongyang -- semua melihat diri mereka sebagai pejuang yang menyuarakan perubahan.
 
"Korut terus mengendalikan situasi dengan memblokir informasi dari luar," kata Lee Min Bok, warga Korut yang membelot, melarikan diri dari tanah airnya ketika menemukan selebaran beberapa generasi sebelumnya, 30 tahun silam. Dia sudah menghabiskan hampir 15 tahun mengirim selebaran ke Utara. 
 
"Untuk menghancurkannya dengan damai, masuknya informasi sangat diperlukan," tuturnya, seperti disitir Associated Press, Rabu 23 Agustus 2017.
 
Pyongyang membenci para aktivis tersebut, mengutuk pengaruh luar sebagai "angin kuning", bahkan saat balik mengirimkan ribuan selebaran di selatan setiap tahun.
 
"Mereka selalu mencoba untuk menjatuhkan pamflet ini ke arah kami, dekat perbatasan," kata Kim Song Hui, pemandu di Class Education Centre, sebuah museum propaganda anti-Amerika dan anti-Jepang di ibukota Korut. 
 
"Tapi rakyat di desa tahu bahwa mereka harus menyerahkan selebaran itu ke petugas keamanan," serunya.
 
Seberapa besar pengaruh para aktivis? Tidak tergambar jelas, terutama karena beberapa penyelundup telah membawa acara TV Korsel dan film-film Amerika ke Korut untuk dijual selama bertahun-tahun, tanpa dukungan para aktivis.
 
"Masuknya informasi eksternal tidak mengguncang rezim tersebut," kata Cheong Seong-Chang, analis di Institut Sejong, Korsel. Mungkin membawa perubahan tambahan, dengan mendorong beberapa orang untuk membelot, misalnya, tapi dia meragukan lebih banyak hal.
 
Timbul juga risiko dari kampanye balon. Warga Korut yang tertangkap membawa selebaran politik atau flash drive bisa dihukum berat, dan peluncuran balon bisa menjadi isu kunci dalam diplomasi lintas batas. Pemerintah Korsel berhenti menerbangkan balon-balon melewati perbatasan beberapa tahun yang lalu, sebagian sebagai upaya mengurangi ketegangan. Presiden liberal baru di Selatan, Moon Jae-in, telah menyinggung Korut sejak pemilihannya awal tahun ini. 
 
Seorang juru bicara pemerintah mengatakan kepada para wartawan baru-baru ini bahwa selebaran tersebut "dapat memicu ketegangan militer yang tidak perlu, termasuk kemungkinan konflik yang tidak disengaja." Bahkan beberapa aktivis telah membatasi kegiatan mereka dalam beberapa tahun terakhir. Sedangkan Korut menggunakan perangkat lunak khusus untuk mempersulit berbagi video di ponsel dan perangkat lainnya.
 
Namun, setiap tahun para aktivis mengirim ratusan ribu selebaran ke seberang perbatasan, dan ribuan DVD dan flash drive memuat semuanya -- dari Alkitab hingga komedi situasi Amerika, ke drama sejarah Korsel.
 
Beberapa diangkut oleh penyelundup yang dipekerjakan melalui China. Beberapa disegel di dalam botol air 2 liter yang diuntalkan ke ombak di sepanjang pantai Korsel, kemudian dibawa arus ke utara.



(FJR)