Filipina Tunda Latihan Bersama dengan Militer AS

Arpan Rahman    •    Sabtu, 08 Oct 2016 17:23 WIB
as-filipina
Filipina Tunda Latihan Bersama dengan Militer AS
Latihan perang militer Filipina dan AS pada 7 Oktober (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Manila: Menteri pertahanan Filipina mengatakan, rencana patroli bersama dan latihan angkatan laut dengan militer AS di Laut Cina Selatan telah ditangguhkan. Penangguhan ini menjadi jeda pertama dalam kerjasama pertahanan setelah akhir-akhir ini komentar sumbang dilontarkan presiden baru negara itu.
 
Delfin Lorenzana, Menteri Pertahanan Filipina juga mengatakan bahwa 107 tentara AS yang terlibat dalam operasi drone mengawasi gerilyawan Muslim akan diminta untuk meninggalkan bagian selatan negara itu setelah Filipina memperoleh temuan intelijen dalam waktu dekat.
 
"Presiden Rodrigo Duterte juga ingin menghentikan 28 latihan militer yang dilakukan dengan pasukan AS setiap tahun," kata Lorenzana, seperti dikutip The Guardian, Sabtu (8/10/2016). 
 
Duterte mengatakan, menginginkan latihan amfibi pendaratan pantai AS-Filipina yang sedang berlangsung menjadi yang terakhir dalam enam tahun kepresidenannya. Ia memutuskan mundur dari ketergantungan pada AS.
 
"Tahun ini akan menjadi yang terakhir," kata Duterte tentang latihan militer yang melibatkan AS dalam pidato, pada Jumat 7 Oktober, di Davao selatan.
 
"Selama saya jadi presiden, jangan perlakukan kami seperti keset karena Anda akan menyesal karena itu," kata Duterte menuding AS. "Saya tidak akan berbicara dengan Anda. Saya bisa saja berpaling ke Tiongkok," tegasnya.


Latihan perang militer Filipina dan AS (Foto: AFP)

 
Di Washington, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri John Kirby mengatakan, pemerintah AS tidak tahu pengumuman resmi tentang pembatalan latihan militer. Dia menyebut AS tetap fokus pada komitmen keamanan dengan Filipina lantaran memiliki perjanjian pertahanan bersama.
 
"Kami pikir komentar seperti ini, apakah mereka akan terwujud oleh tindakan yang sebenarnya atau tidak, benar-benar bertentangan dengan kedekatan hubungan yang kita miliki dengan masyarakat Filipina dan kami sepenuhnya bermaksud untuk melanjutkannya," ujar Kirby.
 
Duterte, yang menjabat sejak Juni dan menggambarkan dirinya sebagai politikus sayap kiri, telah memiliki hubungan yang tidak nyaman dengan AS, bekas penjajah negaranya.
 
Duterte telah mengecam kritik pemerintah AS atas penumpasan maut melawan narkoba, yang sudah menewaskan lebih dari 3.600 tersangka hanya dalam waktu tiga bulan. Penumpasan itu mengkhawatirkan pemerintah Barat dan kelompok hak asasi manusia.
 
Sementara beberapa pejabat Filipina yang berdiri di belakang Duterte kadang-kadang mementahkan pernyataan anti-AS. Seperti awal pekan ini, Duterte mengatakan kepada Presiden Barack Obama "pergilah ke neraka" --Lorenzana berkomentar untuk pertama kalinya pemerintahan Duterte akan menggulirkan kembali kerjasama dengan militer AS.
 
Terpisah, di Laut China Selatan yang berlatar biru kehijauan, marinir AS dan pasukan tempur sekutunya, Filipina, menerobos daratan pada Jumat 7 Oktober dengan kapal amfibi dalam sebuah serangan tiruan di pantai Filipina, di kota San Antonio, sebelah barat laut provinsi Zambales.
 
"Hujan deras telah mencegah pesawat militer bergabung dalam latihan penyerangan pantai itu, tapi pasukan AS dan Filipina berhasil secara cepat menyerbu ke darat untuk merebut sebuah target khayalan", kata Mayor Roger Hollenbeck, juru bicara militer AS untuk latihan ini.
 
Diminta berkomentar tentang kemungkinan bahwa manuver bersama tersebut akan menjadi yang terakhir dalam kepresidenan Duterte, Hollenbeck menjawab, "Jika ini jadi yang terakhir, ya terjadilah." 
 
"Saya tidak ada hubungannya dengan itu dan kita akan terus bekerja sama, kita punya hubungan yang hebat," jelasnya.
Lorenzana mengatakan, beberapa pejabat militer AS telah menyatakan keprihatinan tentang perjanjian aliansi selama 65 tahun akan terputus di bawah kepemimpinan Duterte.
 
Gerakan Duterte untuk membatasi kehadiran pasukan Amerika akan menghambat rencana Washington untuk memperluas kedudukan pasukan AS di Asia Tenggara guna menghadapi Tiongkok.
 
"Presiden Duterte menembak bertubi-tubi demokrasi paroki, itu sangat mengganggu," kata Carl Thayer, seorang pakar tentang Laut China Selatan. "Jika Duterte bergerak hendak mengurangi kehadiran rotasi militer dari pangkalan AS di Filipina, ini akan melemahkan kemampuan AS untuk mencegah Tiongkok tidak hanya dalam pertahanan kedaulatan Filipina tetapi keamanan regional juga," pungkasnya
 
Meskipun berada di tahap sulit dalam hubungan kedua negara, Lorenzana tetap optimis bahwa hubungan mereka akhirnya akan bangkit kembali.
 
"Saya pikir hanya melewati batu sandungan di jalan. Hubungan kadang-kadang sampai ke tahap ini, tapi seiring waktu akan diperbaiki," Lorenzana berkata pada konferensi pers.



(FJR)

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

BDF IX Berakhir, Demokrasi Masih Hadapi Banyak Tantangan

22 hours Ago

Bali Democracy Forum (BDF) IX resmi ditutup. Sejak pertama kali diadakan pada 2008, tingkat keikutsertaan…

BERITA LAINNYA