AS dan Tiongkok Masih Punya Kekuatan Besar di Asia Tenggara

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 31 Oct 2017 12:23 WIB
laut china selatan
AS dan Tiongkok Masih Punya Kekuatan Besar di Asia Tenggara
Deputi Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman Arif Havas Oegroseno (memegang mikfrofon) dalam diskusi mengenai Laut China Selatan di Hotel Aryaduta, Jakarta 31 Oktober 2017 (Foto: Sonya Michaella/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Sengketa di Laut China Selatan antara Tiongkok, negara-negara di Asia Tenggara dan Amerika Serikat (AS) masih terus berlangsung hingga sekarang. Padahal, sudah ada putusan Pengadilan Tetap Arbitrase (PCA) yang mengatur sengketa ini.
 
Deputi Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman Arif Havas Oegroseno menuturkan kekuatan Tiongkok dan AS di kawasan Asia Tenggara masih besar. Meskipun AS bukanlah negara pengklaim dalam konflik Laut China Selatan.
 
"Putusan PCA berdampak, tapi tidak besar. Wilayah kita berada di wilayah Asia Pasifik, khususnya timur dan tenggara, kita memiliki kekuatan dominan AS," ujar Havas dalam acara seminar 'Geopolitical and Legal Development Post Permanent Court of Arbitration Award on South China Sea Dispute', Jakarta, Selasa 31 Oktober 2017.
 
 
Dia menambahkan kehadiran para negara berkekuatan besar ini akibat adanya perjanjian. Dia menuturkan, bahkan Indonesia memiliki perjanjian pengaturan pelayanan dengan AS.
 
Havas mengatakan anggapan yang menyebutkan kekuatan AS melemah adalah salah. Buktinya, AS berada di wilayah Asia Tenggara dengan perjanjian dan ahli hukum mereka.
 
ASEAN, imbuh mantan Dubes RI untuk Belgia itu, memiliki kekuatan tradisional yang terletak pada infrastruktur legal. "ASEAN pada dasarnya merupakan kepala dalam institusi di wilayah Asia. Kita punya banyak infrastruktur," imbuhnya.
 
Namun semuanya tidak terlihat karena masing-masing negara di ASEAN masih mencari dan mementingkan posisi masing-masing. Hal ini harus dibuang dalam pikiran negara-negara anggota ASEAN.
 
 
Sementara itu, Tiongkok juga memiliki kedekatan dan kekuatan di Asia Tenggara. Kekuatannya berbasis pada uang. Mereka dianggap berjasa pada pembangunan di Asia Tenggara karena membiayai pembangunan tersebut.
 
Pria yang juga berkarier sebagai diplomat itu mengungkapkan bahwa negara-negara di Asia Tenggara saat ini terlihat bersedia condong pada Tiongkok.
 
Laut China Selatan dianggap sebagai salah satu isu yang memperlihatkan keberadaan AS dan Tiongkok. Negeri Paman Sam menuturkan bahwa wilayah sengketa itu merupakan area bebas navigasi, namun di sisi lain, Tiongkok menganggap wilayah itu adalah teritorial mereka.
 
"Saya takut pendekatan militerisasi di Laut China Selatan menjadi salah satu faktor geopolitik di kawasan. Dan gambarannya tidak terlalu jelas," tuturnya.
 
Pasalnya, Tiongkok mulai menjadikan Kepulauan Spratly sebagai basis militer mereka. Hal ini kemudian mendapat berbagai pertentangan dari negara-negara yang memiliki sengketa dengan Beijing di wilayah tersebut.
 
Pengadilan Arbitrase Permanen atau PCA di Den Haag, Belanda, akhirnya mengeluarkan putusan mengenai gugatan Filipina terhadap Tiongkok atas sengketa perairan Laut China Selatan, 12 Juli 2016 lalu.



(FJR)