Krisis Rohingya, Aung San Suu Kyi Tunda Kunjungan ke Indonesia

Fajar Nugraha    •    Senin, 28 Nov 2016 22:33 WIB
konflik myanmar
Krisis Rohingya, Aung San Suu Kyi Tunda Kunjungan ke Indonesia
Aung San Suu Kyi tunda kunjungan ke Indonesia (Foto: Reuters).

Metrotvnews.com, Yangon: Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi menunda kunjungan ke Indonesia, menyusul insiden berdarah yang dialami etnis Muslim Rohingya di Myanmar. 
 
Penundaan dilakukan setelah terjadi rangkain protes terhadap Myanmar dan terungkapnya plot teror serangan atas Kedutaan Myanmar di Jakarta.
 
Suu Kyi direncanakan akan mengunjungi Indonesia setelah kunjungan dari Singapura dari 30 November hingga 2 Desember. Tetapi seorang pejabat tinggi Kemenlu Myanmar membenarkan bahwa rencana perjalanan ke Indonesia ditunda.
 
"Kami menunda perjalanan ke Indonesia karena masalah di Rakhine (asal etnis Rohingya) dan wilayah utara Shan," ujar Deputi Dirjen Kemenlu Myanmar Aye Aye Soe, seperti dikutip AFP, Senin (28/11/2016).
 
"Kunjungan ini akan diatur ulang di masa mendatang," lanjutnya.
 
 
Selama sepekan terakhir, ribuan warga etnis Rohingya memenuhi perbatasan Myanmar dan Bangladesh di Rakhine. Mereka ingin menyelamatkan diri dari kekerasan yang terjadi di desa, setelah sekelompok orang bersenjata menyerang pos perbatasan.
 
Namun menurut laporan, bukan bantuan yang didapatkan oleh sekitar 30 warga Rohingya ini. Ada dari mereka yang justru ditembaki pasukan Myanmar dan disiksa serta bahkan ada pula laporan diperkosa oleh pihak keamanan Myanmar.
 
Sementara Suu Kyi sendiri dikecam karena tetap diam dalam mengatasi krisis ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutnya sebagai upaya pembersihan etnis.
 
Tetapi Pemerintah Suu Kyi membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya. Menurut mereka, pihak pasukan memburu kelompok teroris yang berada di balik penyerangan pos perbatasan yang dijaga polisi Myanmar.
 
Jurnalis asing dan penyelidik independen dilarang untuk masuk ke Myanmar untuk mencari verifikasi apa yang terjadi sebenarnya.
 
Etnis Rohingya menjadi kaum minoritas di Myanmar yang sebagian besar penduduknya beragama Budha. Setiap harinya mereka ditolak kewarganegaraannya. Mereka juga tidak mendapatkan jaminan kesehatan, pendidikan serta pergerakannya selalu dibatasi.

 

 
(FJR)