Demo di Kedubes, Massa Tuntut Myanmar Keluar dari ASEAN

Sonya Michaella    •    Jumat, 25 Nov 2016 14:54 WIB
konflik myanmar
Demo di Kedubes, Massa Tuntut Myanmar Keluar dari ASEAN
Aksi unjuk rasa yang terjadi di depan Kedubes Myanmar (Foto: Sonya Michaella/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Sekitar 500 pengunjuk rasa menuntut agar Myanmar dikeluarkan dari keanggotaan ASEAN. Hal ini ditegaskan oleh pemimpin orasi unjuk rasa dari salah satu ormas Islam.
 
"Kami menuntut Myanmar keluar dari ASEAN jika kekerasan terhadap Rohingya masih terus terjadi. Kami meminta ASEAN untuk tegas," ucap pemimpin ormas tersebut pada orasinya di depan Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta, Jumat (25/11/2016).
 
Sebelum orasi dimulai, mereka sempat menggelar doa bersama sesaat di depan Kedubes Myanmar.
 
Pantauan Metrotvnews.com Jumat 25 November di lapangan, mulai berdatangan lagi kelompok-kelompok unjuk rasa yang lain. Tuntutan mereka pun masih sama, yaitu mendesak Myanmar hentikan kekerasan dan pembantaian di Rohingya.
 
"Kami sudah surati PBB, sudah surati Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta, tapi tak ada respon. Kami akan terus berdemo, bahkan yang lebih besar, jika kekerasan masih terjadi," tegasnya lagi.
 
Mereka juga meminta Indonesia segera memutus hubungan diplomatik dengan Myanmar secepatnya.
 
Indonesia Tak Perlu Campuri Dalam Negeri Myanmar
 
Peneliti Wahid Center Dewi Hermawati Resminingayu menilai Indonesia belum perlu menerapkan prinsip interferrence atau mencampuri apa yang tengah terjadi di Myanmar. 

(Baca: Indonesia Tak Perlu Turut Campur Masalah Dalam Negeri Myanmar).
 
Ini disebabnya ada aturan sebuah negara untuk mencampuri urusan negara lain. Jika pada saatnya Indonesia ikut campur urusan Myanmar, apa aksi riil yang akan diberikan Indonesia. Perlu dipikirkan kembali bagaimana bentuk intervensi, juga pada saatnya terjadi termasuk juga kesiapannya.
 
Ketika bermaksud untuk mencampuri apa yang terjadi di Myanmar, khususnya yang dialami oleh etnis Rohingya, menurut Dewi perlu juga mengambil sikap. Maunya indonesia ini melihat prinsip ikut campur ini dari segi apa? Apakah mau dilihat dari segi bahwa ini isu keagamaan atau isu keawarganegaraan atau isu yang lain?
 
Menurutnya perlu ada inisiasi pengambilan sikap, perlu juga tahu akal sehatnya gimana dan juga kesiapaannya. 
 
Indonesia tidak tinggal diam melihat keadaan etnis Rohingya
 
Sebelumnya Menlu Retno Marsudi menegaskan Indonesia tak tinggal diam dengan keadaaan suku Rohingya di Myanmar. Indonesia sudah berdiplomasi agar Myanmar menyelesaikan konflik dengan suku muslim tersebut.
 
Menurut Retno, sejak dari dulu Pemerintah Indonesia selalu berhubungan Pemerintah Myanmar memberikan bantuan pembangunan kapasitas.
 
 
Menurut mantan Dubes RI untuk Belanda itu, banyak bantuan teknis terkait isu-isu besar untuk kebutuhan Myanmar yang sudah diberikan Indonesia. Bantuan itu, kata dia, fokus di Negara Bagian Rakhine yang merupakan domisili suku Rohingya.
 
Retno juga mengungkapkan bahwa Indonesia selalu berbagi informasi bahwa kita pernah menghadapi situasi yang sama dengan Myanmar. Tetapi Indonesia menekankan bisa mentransformasikan diri menjadi sebuah negara yang demokratis.
 
Selain itu, Kementerian Luar Negeri RI juga sudah memanggil Dubes Myanmar untuk Indonesia pada Senin 21 November. Pemanggilan dilakukan untuk mendapatkan informasi terkait kondisi terkini di Rakhine.  

 


(FJR)