Menlu Sebut 18 WNI yang Kabur dari ISIS Kini Berada di Irak

Sonya Michaella    •    Jumat, 11 Aug 2017 17:03 WIB
isiswni gabung isis
Menlu Sebut 18 WNI yang Kabur dari ISIS Kini Berada di Irak
Menlu Retno L.P Marsudi pastikan 18 WNI yang kabur dari ISIS sudah berada di Irak (Foto: Sonya Michaella/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi memberikan konfirmasi bahwa 18 Warga Negara Indonesia (WNI) yang kabur dari kelompok militan Islamic State (ISIS) kini sudah berada di Irbil, Irak.
 
Para WNI itu melarikan diri dari Raqqa -- wilayah yang didominasi oleh ISIS di Suriah -- dengan bantuan pihak ketiga pada 10 Juni 2017. 
 
"Sudah berada di Irbil, Irak. Sampai situ dulu. Semuanya sudah dan dalam kondisi baik. Kita juga terus berkomunikasi," ucap Menlu Retno ketika ditemui di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Jumat 11 Agustus 2017.
 
Kaburnya 17 WNI ini pertama kali digaungkan oleh seorang pejabat lokal Kurdi dan satu juru bicara. Menurut keterangan pejabat itu, Omar Alloush, 18 WNI meliputi pria, wanita dan anak-anak. Mereka diserahkan ke perwakilan RI pada Selasa kemarin di perbatasan Suriah-Irak. 
 
 
Alloush mengatakan 18 WNI itu meminta dipulangkan setelah melarikan diri dari ISIS. 
 
Dalam pembicaraan awal dengan otoritas Kurdi, 18 WNI itu diketahui hanya simpatisan dan bukan militan atau fighter. Mereka berada di Raqqa hanya di 40 hari pertama sejak tiba di kota tersebut. 
 
Pihak-pihak yang membantu 18 WNI lebih menekankan terhadap situasi kemanusiaan. Itu dikarenakan ada tiga balita dan tiga remaja dalam kelompok WNI tersebut. 
 
Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu RI, Lalu Muhamad Iqbal bahkan mengatakan bahwa kondisi keamanan di wilayah tersebut sangat kompleks, sehingga proses penanganan tidak dapat dilakukan dengan mudah.
 
Iqbal menambahkan, kondisi keamanan di wilayah tersebut sangat kompleks, sehingga proses penanganan tidak dapat dilakukan dengan mudah.
 
 
Pihak-pihak yang membantu 18 WNI lebih menekankan terhadap situasi kemanusiaan. Itu dikarenakan ada tiga balita dan tiga remaja dalam kelompok WNI tersebut. 
 
Menurut Iqbal, saat meninggalkan Indonesia pada Agustus 2015, ada dua remaja yang usianya di bawah umur.
 
Ditipu ISIS
 
WNI ini datang ke Raqqa dengan harapan bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. WNI berusia 19 tahun bernama Nur bercerita bahwa dirinya datang ke Suriah dengan harapan bisa mendapat pekerjaan. 
 
 
"Ketika kami masuk ke ISIS, masuk ke wilayah negaranya semuanya berbeda dari yang diucapkan di internet. Kami diiming-imingi pekerjaan dengan bayaran besar," ucap Nur, seperti dikutip AFP.
 
Tetapi ketika tiba di Raqqa, seluruh pria yang datang bersama Nur diwajibkan untuk berjuang bersama pasukan ISIS. Bahkan keluarganya pun dijebloskan ke penjara.
 
"Semua dimasukkan ke penjara, ayah dan saudara saya," tutur Nur yang tidak menjelaskan apa penyebab saudaranya dipenjara.
 
Tidak hanya itu, Nur juga diburu oleh anggota ISIS lain untuk dinikahi. "Banyak dari anggota ISIS yang duda, baru menikah selama dua minggu atau dua bulan," jelasnya.
 
Cerita serupa juga disampaikan oleh WNI bernama Leefa. Leefa pergi dari Indonesia untuk bergabung dengan kelompok ISIS di Raqqa. Baginya sesaat sebelum pergi, dia membayangkan tempat tujuannya bisa menunjukkan surga atas keyakinannya selama ini.
 
Menurut Leefa, dirinya datang ke Raqqa setelah mendengar kabar bahwa biaya operasi di wilayah ISIS sangat murah. 
 
"Saya menderita masalah kesehatan dan butuh operasi di bagian leher. Biaya operasi di Indonesia sangatlah mahal," imbuhnya.
 
Tetapi ketika tiba di Suriah, kondisinya jauh berbeda dari harapan. Tidak ada harga murah untuk operasi, justru lebih mahal dibanding di Indonesia bahkan Leefa tidak dirawat sama sekali.



(FJR)