Selama 24 Jam, Pengungsi Myanmar ke Bangladesh Bertambah 35 Ribu

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 05 Sep 2017 16:04 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Selama 24 Jam, Pengungsi Myanmar ke Bangladesh Bertambah 35 Ribu
Pengungsi dari wilayah Rakhine berupaya menyeberang ke Bangladesh (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Dhaka: Jumlah pengungsi Rohingya yang kabur ke Bangladesh melonjak tajam. Dalam kurun waktu 24 jam, lebih dari 35 ribu orang etnis Rohingya tiba di Bangladesh.
 
Diperkirakan sudah sebanyak 123 ribu pengungsi yang melarikan diri dari Myanmar sejak kekerasan kembali pecah pada 25 Agustus lalu.
 
"Jumlah pengungsi Rohingya yang menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh telah melonjak tajam. Lebih dari 35 ribu pendatang baru teridentifikasi dalam 24 jam terakhir," seru Perserikatan Bangsa-Bangsa, seperti dilansir dari laman BBC, Selasa 5 Agustus 2017.
 
PBB mengatakan, tidak jelas kapan pengungsi terakhir memasuki Bangladesh. Meski demikian, kebutuhan akan makanan dan tempat berlindung meningkat drastis.
 
 
Dua kemah utama PBB untuk menampung para pengungsi ini sekarang penuh terisi. Orang-orang dikabarkan tidur di luar dan membangun tempat penampungan di lapangan terbuka dan jalanan.
 
Kemarin, Senin 4 September, seorang pejabat senior hak asasi manusia PBB mengatakan, sudah saatnya pemimpin de facto Myanmar, Daw Aung San Suu Kyi menghentikan kekerasan yang terjadi di sana. Pasalnya, keprihatinan regional terhadap pengungsi Rohingya meningkat.
 
Keprihatinan Indonesia
 
Indonesia menyampaikan simpati dan perhatian atas kekerasan di negara bagian Rakhine. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi diutus Presiden Joko Widodo untuk bertemu dan berbincang langsung dengan Suu Kyi, Pemimpin Tertinggi Angkatan Bersenjata Myanmar dan tiga menteri yang terkait dengan Rakhine.
 
Menlu Retno menyampaikan usulan dengan formula 4+1 dari Indonesia. Empat usulan tersebut adalah, perdamaian dan keamanan, pertahanan diri maksimum dan tanpa kekerasan, perlindungan tanpa memandang etnis dan agama, serta pentingnya membuka akses penyaluran bantuan kemanusiaan.
 
 
Retno menambahkan selain empat usulan tersebut, satu lainnya adalah implementasi laporan Kofi Annan, Ketua Komisi Penasihat Negara Bagian Rakhine yang ditunjuk Pemerintah Myanmar sendiri. Menurut Retno, Suu Kyi menanggapi positif usulan dengan formula 4+1 yang disampaikan Indonesia.
 
Sementara itu, Retno mengakui dia dan Suu Kyi membicarakan hal yang lebih detail mengenai akses bantuan kemanusiaan ke Negara Bagian Rakhine.

 

 
(FJR)