Amnesty: Pembatasan Bantuan ke Rakhine Buat Ribuan Orang Menderita

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 05 Sep 2017 17:48 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Amnesty: Pembatasan Bantuan ke Rakhine Buat Ribuan Orang Menderita
Warga Rakhine yang melarikan diri dari aksi kekerasan berada di Ukhia, di perbatasan Myanmar dan Bangladesh, 4 September 2017. (Foto: AFP/K.M. ASAD)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pembatasan pemberian bantuan internasional ke negara bagian Rakhine bisa menyebabkan puluhan ribu nyawa dalam risiko besar. Pasalnya, kekerasan di wilayah tersebut membuat warga yang masih terjebak kekurangan makanan dan obat-obatan. Mereka bahkan tak memiliki tempat tinggal.

Amnesty Internasional sangat menyayangkan keputusan pemerintah Myanmar yang membatasi bantuan kemanusiaan ke sana. Kepada Amnesty Internasional, pekerja bantuan mengatakan kondisi di Rakhine semakin memprihatinkan sejak kekerasan yang kembali meletus pada 25 Agustus.

"Negara bagian Rakhine berada di jurang bencana kemanusiaan. Tidak ada yang bisa membenarkan menahan bantuan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa mereka yang terjebak. Dengan memblokade akses untuk organisasi kemanusiaan, pihak berwenang Myanmar telah menempatkan puluhan ribu orang pada ambang kematian," tutur Direktur Penanggulangan Krisis Internasional Amnesty International, Tirana Hassan, dalam pernyataan yang diterima Metrotvnews.com, Selasa 5 September 2017.

"Pembatasan ini akan memengaruhi semua lapisan masyarakat di Negara Bagian Rakhine. Pemerintah harus segera mengubah arah dan membiarkan organisasi-organisasi kemanusiaan mendapat akses penuh tanpa batas ke semua bagian wilayah itu untuk membantu mereka yang membutuhkan," imbuhnya.

Baca: Bertemu Suu Kyi, Menlu RI Sampaikan Empat Usulan Indonesia

Kegiatan bantuan dihentikan di bagian utara negara bagian sejak pekan lalu. Sementara di wilayah lain, pihak berwenang menolak bantuan dan akses kemanusiaan kepada masyarakat etnis Rohingya di sana.

Menurut para pekerja kemanusiaan, bantuan sebenarnya ditutup sejak awal Agustus. Namun situasinya semakin memburuk sejak serangan 25 Agustus.

Puluhan ribu warga Rakhine terpaksa melarikan diri dari rumah mereka sejak kekerasan terbaru meletus. Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jumlah pengungsi Rohingya melarikan diri ke Bangladesh sudah melebihi 90 ribu. Sementara etnis minoritas lain yang dievakuasi pemerintah Myanmar mencapai 11 ribu jiwa.

Kebanyakan para pengungsi berada di pegunungan di negara bagian Rakhine utara, wilayah di mana PBB dan LSM internasional tidak dapat menilai kebutuhan mereka atau memberikan perlindungan serta makanan.

 


(WIL)