Presiden Korsel Sebut Trump Berjasa dalam Dialog dengan Korut

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 10 Jan 2018 21:07 WIB
korsel-korut
Presiden Korsel Sebut Trump Berjasa dalam Dialog dengan Korut
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (Foto:AFP)

Seoul: Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in menyebutkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berjasa dalam pertemuan tingkat tinggi Korsel dengan Korea Utara (Korut). Pasalnya, pertemuan tersebut terjadi pertama kali setelah lebih dari dua tahun.

"Saya berpikir Presiden Trump memegang peranan penting atas pembicaraan Korut dan Korsel. Pembicaraan ini mungkin bisa terjadi akibat sanksi dan tekanan yang diusulkan AS," ucap Moon, seperti dilansir dari laman The Guardian, Rabu 10 Januari 2018.

Lewat pernyataan ini, Moon menyangkal kekhawatiran AS akan kerenggangan hubungan antara Seoul dan Washington. Moon memastikan, Korsel akan tetap sepaham dengan AS untuk menghentikan program senjata rudal dan nuklir Pyongyang.

"Denuklirisasi di Semenanjung Korea sudah disepakati bersama oleh keduanya, yang akan menjadi acuan kami dan tidak akan kami ingkari," ujar Moon.

Perundingan antara delegasi Korea Utara dan Korea Selatan di derah demiliterisasi di Paju, Panmunjom, kemarin, 9 Januari 2018 menghasilkan empat hal.

Pertama, Korut akan berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang. Kedua, kedua negara akan melakukan pawai bersama dalam acara pembukaan dan penutupan Olimpiade. Ketiga, kedua negara juga sepakat untuk menunda pembicaraan militer untuk menghapuskan ketegangan di Semenanjung Korea.

Selain itu, Korsel mengusulkan untuk melanjutkan pembahasan reuni keluarga yang terpisah akibat Perang Korea. Sayangnya, permintaan ini tidak masuk dalam pernyataan pers bersama. Terlebih, Korut enggan memberikan tanggapan terbuka atas usulan tersebut.

Meski demikian, AS sendiri menyatakan dukungan mereka terhadap pertemuan tingkat tinggi antara Korsel dan Korut yang dihelat di zona demilitarisasi (DMZ) di perbatasan kedua negara pada Selasa ini.

AS berharap perundingan ini dapat menjadi tonggak untuk memulai pembicaraan mengenai peredaman ambisi nuklir Korut. Kementerian Luar Negeri AS pun menyatakan kesiapan mereka untuk ikut serta dalam pembicaraan kedua negara itu selanjutnya.

 


(WAH)