Alumni Fulbright: Indonesia, Saya Cinta

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 07 Nov 2017 16:12 WIB
indonesia-as
Alumni Fulbright: Indonesia, Saya Cinta
Brian Kraft, alumni Fulbright asal Amerika Serikat (AS) yang memilih bekerja di Indonesia (Foto: Marcheilla Ariesta/Metrotvnews.com).

Metrotvnews.com, Jakarta: Dari Pekanbaru ke Pulau Seram menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Brian Kraft, alumni Fulbright asal Amerika Serikat (AS) yang memilih bekerja di Indonesia.
 
Brian menuturkan betapa Indonesia yang dia lihat sangat berbeda dengan Amerika Serikat.
 
"Awalnya saya mengajar bahasa Inggris di SMA 8 Pekanbaru, kemudian saya pindah ke Maluku, dan mengajar di Pulau Seram. Dari sini saya melihat, beda sekali Indonesia dengan Amerika Serikat," ujarnya saat ditemui di Restoran Senyum Indonesia, Jakarta, Selasa, 7 November 2017.
 
Brian mengaku dia awalnya mengalami kesulitan karena perbedaan bahasa, karenanya dia belajar bahasa Indonesia saat mengajar di Pekanbaru. Dia menambahkan, ragam perbedaan yang ada di Indonesia membawanya kembali ke AS untuk melanjutkan studi S2 mengenai Asia Tenggara.
 
Menurut dia, kurang fokus pada kerja sama dengan Indonesia. Padahal, Indonesia bisa menjadi lahan potensial bagi Negeri Paman Sam di Asia Tenggara.
 
"Kecintaan saya kepada Indonesia membuat saya belajar mengenai studi Asia Tenggara lewat beasiswa Fulbright. Setelah lulus, saya kembali lagi ke Indonesia dan menjadi konsultan di sini," terang Brian.
 
Brian menuturkan dirinya mendapat pengalaman menarik selama mengajar di Pekanbaru dan Maluku. Di Maluku, dia mencoba makan papeda. Meski pun awalnya tak suka dengan rasanya, namun dia lama-lama menikmatinya ketika papeda tersebut dicampur dengan kuah dan sambal.
 
Pria yang bekerja sebagai konsultan ini mengungkapkan pengalamannya dalam pertemuan dengan American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) di Jakarta. AMINEF merupakan lembaga yang mengelola beasiswa Fulbright di Indonesia.
 
Beasiswa ini lahir pada tahun 1946, dan mengambil nama dari orang yang mengusulkan beasiswa yakni mendiang Senator J. William Fulbright. Beasiswa ini diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1952, dan salah satu penerima pertama beasiswa ini adalah H. Agus Salim.
 
AMINEF selaku pengelola Fulbright di Indonesia mengirimkan setidaknya 80 pelajar Indonesia untuk berkuliah di AS. Direktu AMINEF, Alan H.Feinsten menuturkan saat ini ada 76 pelajar Indonesia yang berkuliah di AS yang berasal dari beasiswa Fulbright.


(FJR)