Pakistan: Tweet Donald Trump Tidak Bisa Dipahami

Arpan Rahman    •    Rabu, 03 Jan 2018 18:08 WIB
amerika serikatpakistan
Pakistan: Tweet Donald Trump Tidak Bisa Dipahami
Presiden AS Donald Trump menuduh Pakistan menyembunyikan teroris (Foto: AFP).

Islamabad: Pakistan membalas, pada Selasa 2 Januari 2018, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuduh mereka telah menyembunyikan teroris. Pihak Islamabad menyebut Tweet Tahun Baru Trump 'sama sekali tidak dapat dipahami.'
 
Pemerintah Pakistan memanggil Duta Besar AS untuk komplain. Namun tidak memenuhi tuntutan protes dari sejumlah kelompok Islamis untuk mengusir Dubes tersebut.
 
 
Putaran terakhir serangan bak gayung bersambut antara dua sekutu yang saling segan, yang keduanya tidak mempercayai satu sama lain. Itu dipicu oleh cuitan Trump pada Senin 1 Januari 2018. Dia menyebut bahwa AS 'dengan bodohnya' sudah memberi Pakistan lebih dari USD33 miliar bantuan dalam 15 tahun terakhir dan tidak mendapat imbalan apa-apa selain 'kebohongan dan tipuan'.
 
Dia juga mengulangi tuduhan lama bahwa Pakistan memberi 'tempat yang aman bagi teroris yang kita cari di Afghanistan.'
 
Sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah sebuah pertemuan Komite Keamanan Nasional, yang dihadiri oleh Perdana Menteri Pakistan dan kepala staf militer, mengatakan bahwa AS mengkambinghitamkan Pakistan karena kegagalannya sendiri buat membawa perdamaian ke Afghanistan setelah 16 tahun berperang.
 
Pakistan dan Afghanistan sejak lama saling menuduh menyembunyikan militan, dan telah menukar daftar teroris yang dikehendaki, yang mereka inginkan ditangkap dan dikembalikan. Afghanistan juga sudah membeberkan apa yang dikatakannya sebagai lokasi kamp-kamp militan di Pakistan.
 
Pakistan membantah mendukung militan, menunjuk pada perangnya sendiri melawan kelompok-kelompok ekstremis yang berjuang untuk menggulingkan pemerintah. Mereka menyalahkan pemberontakan yang sedang berkembang di Afghanistan menimbulkan pelarian, perseteruan yang telah melumpuhkan pemerintah Kabul, dan mencatat produksi narkoba. Pakistan menuturkan kekacauan di negeri tetangga melahirkan proliferasi kelompok pemberontak, termasuk afiliasi Islamic State (ISIS) yang sudah menyerangnya dari tempat persembunyian di Afghanistan.
 
Pernyataan Komite Keamanan Nasional mengatakan Pakistan termasuk di antara negara-negara yang paling terpukul oleh serangan teroris. Sesudah kehilangan ribuan warga sipil dan tentara dalam kekerasan yang telah membuat wilayah itu diserang sejak serangan 11 September.
 
Analis pertahanan dan pensiunan Jenderal Pakistan Talat Masood mengatakan bahwa memfitnah Pakistan tidak akan membawa stabilitas ke kawasan tersebut, apalagi menyepelekan kerugian yang diderita Pakistan.
 
"Rakyat Pakistan, pemerintah Pakistan telah benar-benar terkena dampak serius dan konsekuensinya dirasakan setiap hari," kata Masood. "Amerika membutuhkan Pakistan. Tanpa bantuan Pakistan, tidak akan pernah ada stabilitas di wilayah ini," serunya seperti dikutip TIME, Rabu 3 Januari 2018. 
 
Michael Kugelman, wakil direktur program Wilson Center di Asia Selatan, mengatakan bahwa menahan bantuan ke Pakistan tidak mungkin menghalangi dukungan Pakistan bagi pemberontak yang dipandang perlu untuk melindungi kepentingan keamanannya. Pakistan sejak lama mendukung militan Islamis yang memerangi India di wilayah Kashmir yang disengketakan, dan memiliki hubungan dekat dengan Taliban Afghanistan.
 
 
Kontradiksi di jantung hubungan AS-Pakistan mengemuka, Selasa 2 Januari 2018, ketika gerakan Jamaat-ud-Dawa mengadakan demonstrasi di Lahore yang menyerukan pengusiran Dubes AS.
 
Kelompok tersebut dipimpin Hafiz Saeed, yang juga mendirikan grup militan yang dituding atas serangan Mumbai 2008. Kementerian Luar Negeri AS sudah menawarkan hadiah sebesar USD10 juta untuk Saeed, yang dituduh atas terorisme, namun dia tinggal secara terbuka di Pakistan dan sering hadir dalam demonstrasi publik.
 
Pakistan baru-baru ini menempatkan Saeed di bawah tahanan rumah selama 11 bulan. Namun sebuah pengadilan membebaskannya, dengan alasan kurangnya bukti.



(FJR)

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

Myanmar Sepakat Terima 1.500 Rohingya Setiap Pekan

1 day Ago

Myanmar menyanggupi akan menyediakan tempat penampungan sementara bagi Rohingya yang kembali.

BERITA LAINNYA