Mengenal Cara Kerja Smart Embassy yang Dipuji Jokowi

Marcheilla Ariesta    •    Selasa, 13 Feb 2018 11:53 WIB
kemenlukbri singapura
Mengenal Cara Kerja Smart Embassy yang Dipuji Jokowi
Presiden Joko Widodo memperhatikan penjelasan mengenai Smart Embassy dari Dubes RI untuk Singapura I Gede Ngurah Swajaya di Kantor Kemenlu 12 Februari 2018 (Foto: KBRI Singapura).

Jakarta: Aplikasi Smart Embassy merupakan sistem teknologi yang digunakan di kedutaan untuk melacak warga negara Indonesia, dan melakukan diplomasi ekonomi.
 
 
Smart Embassy saat ini baru digunakan di beberapa perwakilan RI di luar negeri, salah satunya Singapura. Aplikasi ini mendapat pujian dari Presiden Joko Widodo karena dianggap cepat dan efisien.
 
Duta Besar Indonesia untuk Singapura I Gede Ngurah Swajaya mengatakan aplikasi itu mengumpulkan data yang tertutup. Maksudnya, data tersebut hanya bisa diakses pejabat pemerintah terkait.
 
"Jadi kita bisa tahu si A tinggal di mana, dan sedang di mana. Di Google Map bisa terlihat dia tinggal di mana," ujar Dubes Ngurah, di Jakarta, Selasa 13 Februari 2018.
 
"Detail mengenai data dia juga. Data itu ada semua di KBRI. Data itu terintegrasi dengan data Kementerian Ketenagakerjaan," imbuhnya.
 
Dia mengatakan, untuk para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berada di Singapura, harus dilengkapi dengan kartu TKI. Kartu ini digunakan sebagai 'KTP' di sana.
 
Kartu tersebut dilengkapi dengan QR Code juga. Sehingga memudahkan mengetahui mereka berada di mana.
 
Dubes Ngurah menuturkan, tak ada TKI ilegal di Singapura. Hanya saja, TKI yang direkrut langsung agensi di Singapura.
 
"Nah kalau yang seperti itu, kita tidak bisa menjamin pemenuhan hak. Karena tidak ada izin dari KBRI. Kalau yang ada izin, kita sudah terapkan ke majikan mereka agar upahnya minimum SGD550 (sekitar Rp5,6 juta)," terangnya.
 
Hanya saja, upah tersebut akan didapat bila TKI sudah mendapat pelatihan. Pelatihan diberikan KBRI, berupa pelatihan menjahit, salon, dan lain sebagainya, namun tidak gratis. 


Dubes RI untuk Singapura I Gede Ngurah Swajaya (Foto: Marcheilla Ariesta).
 
Dubes Ngurah menjelaskan, hal itu dilakukan agar para TKI bertanggung jawab atas pelatihan tersebut. Dia menambahkan, biaya yang dikeluarkan juga tidak memberatkan para TKI.
 
Selain untuk memberikan perlindungan, aplikasi Smart Embassy juga dipakai untuk diplomasi ekonomi. Dubes Ngurah mengatakan selama ini ruang rapat KBRI dipakai untuk display produk ekspor Indonesia dan dia mengundang anggota KADIN Singapura ke KBRI untuk melihat produk itu.
 
Dengan demikian, para calon importir bisa mengetahui produk apa yang akan mereka beli dari Indonesia. Jika sudah tahu, mereka bisa mendapat info lengkap mengenai produk, pembuatnya dan barang tersebut di jual di mana lewat aplikasi Smart Embassy yang ada di kedutaan.
 
"Jadi orang datang, tinggal pakai dan semua informasi sudah bisa mereka dapatkan," terangnya.
 
Dubes Ngurah menuturkan hal ini dilakukan untuk mendorong ekspor Indonesia. Dan aplikasi ini akan terus dikembangkan, karena dia ingin aplikasi tersebut bisa masuk dalam platform e-commerce.
 
Selain itu, Dubes Ngurah juga ingin agar pelaut bisa menggunakan aplikasi tersebut. Hal ini dimaksud untuk mempermudah akses mereka.
 
Dia menjelaskan pembuatan aplikasi ini bekerja sama dengan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) di bidang start up. Dubes Ngurah menuturkan perwakilan RI lainnya, seperti KJRI Hong Kong sudah mulai menggunakan aplikasi tersebut.
 
Aplikasi Smart Embassy ini diluncurkan di Singapura sejak 2016. Diharapkan semua perwakilan bisa mengadopsi sistem ini supaya lebih mudah, efisien, cepat dan terintegrasi.



(FJR)