Kasus 1MDB, Dubes Malaysia Kritik Pertemuan Mahathir dengan Sultan

Sonya Michaella    •    Rabu, 05 Oct 2016 14:29 WIB
1mdb
Kasus 1MDB, Dubes Malaysia Kritik Pertemuan Mahathir dengan Sultan
Dubes Malaysia untuk Indonesia Dato Seri Zahrain Mohamed di Kedutaan Besar Malaysia, Jakarta, 5 Oktober 2016. (Foto: MTVN/Sonya Michaella)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pertemuan antara mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dengan Sultan Malaysia beberapa waktu lalu memicu kontroversi di Malaysia.

Pertemuan tersebut diduga terkait kasus korupsi 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang melibatkan PM Malaysia, Najib Razak. Sejumlah pihak menilai seharusnya Sultan Malaysia tidak perlu ikut terseret urusan politik negara. 

"Bagi saya, itu taktik yang tak betul dengan menarik Sultan ke dalam masalah politik. Sultan tak mengurusi dan tak terlibat dalam masalah politik," ujar Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato Seri Zahrain Mohamed, ketika ditemui di Kedutaan Besar Malaysia, Jakarta, Rabu (5/10/2016)

"Selepas pertemuan, Sultan juga sudah menegaskan bahwa ia tak akan ikut campur dalam masalah politik," ujarnya lagi.

Dubes Zahrain menyebut langkah Mahathir menemui Sultan sebagai aksi murahan. "Saya rasa Mahathir lebih menguasai politik karena ia menjadi PM selama 22 tahun. Tak usah lah dibawa ke Sultan," tutur dia lagi.

Kunjungan Mahathir ke Sultan Malaysia pada pertengahan September lalu sempat menggegerkan Malaysia. DIkabarkan Mahathir membawa petisi yang ditandatangani lebih dari satu juta warga Malaysia yang menuntut lengsernya PM Najib atas tuduhan korupsi di badan 1MDB. Pertemuan dilaksanakan di dalam Istana Sultan sekitar pukul 16.45 sore, waktu setempat.

Sempat mereda, isu 1MDB merebak kembali setelah Wall Street Journal dan juga Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengeluarkan daftar nama penerima uang hasil korupsi dari 1MDB.


(WIL)

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

Hasil Referendum Italia dan Hubungannya dengan Uni Eropa

1 day Ago

Perdana Menteri Italia Metteo Renzi mundur dari jabatannya setelah gagal menang dalam referendum…

BERITA LAINNYA