Media Sosial, Alat bagi Teroris Rekrut Militan dari Indonesia

Sonya Michaella    •    Kamis, 12 Apr 2018 15:34 WIB
terorisme
Media Sosial, Alat bagi Teroris Rekrut Militan dari Indonesia
Pengamat terorisme Sidney Jones berbicara mengenai perekrutran militan di Indonesia (Foto: Sonya Michaella).

Jakarta: Media sosial kini menjadi sebuah tren di masyarakat, namun juga membawa marabahaya. Media sosial dikenal telah menjadi alat untuk kelompok militan merekrut anggota baru, terutama dari Indonesia.
 
Pengamat terorisme Sidney Jones mengatakan, peran media sosial kini amat penting di dalam aktivitas kelompok militan.
 
"Sosial media ini berbahaya jika kita tidak menggunakan dengan bijak. Sosial media juga ditemukan sering digunakan di sejumlah pengajian untuk merekrut militan dari Indonesia," ungkap Jones dalam sebuah diskusi FPCI, di Jakarta, Kamis 12 April 2018.
 
Setelah diiming-imingi sesuatu yang menarik dan akan mengubah hidupnya, korban akan dipanggil ke dalam sebuah pertemuan kecil di mana media sosial akan digunakan lagi untuk menghubungkan korban ke kepala kelompok militan tersebut.
 
"Para korban akan dilibatkan dalam rapat kecil tersebut dan sangat tertutup. Hanya orang-orang tertentu yang dapat ikut dalam pertemuan ini," kata dia.
 
Jones menambahkan, tidak ada syarat khusus untuk menjadi seorang militan sebuah kelompok teroris. Pasalnya, mereka akan dilatih sesampainya di negara yang dituju.
 
"Tapi yang dibidik para kelompok militan jelas kaum menengah ke bawah. Ada beberapa yang menengah ke atas. Biasanya mereka telah memiliki ideologi sendiri," jelas dia.
 
Jones pun tak menampik bahwa kebanyakan korban hasil rekrutan kelompok teroris adalah seseorang yang kesepian dan dikenal pendiam, bahkan tak punya teman.
 
Dengan kondisi psikologis seseorang yang seperti ini, akan lebih mudah untuk dipengaruhi dan diubah cara pandang serta cara berpikirnya.


(FJR)