Dicari Polisi, Politikus Malaysia Dikabarkan Kabur ke Indonesia

Fajar Nugraha    •    Jumat, 01 Jun 2018 12:08 WIB
politik malaysia
Dicari Polisi, Politikus Malaysia Dikabarkan Kabur ke Indonesia
Politikus UMNO Datuk Seri Jamal Yunos yang dikabarkan kabur ke Indonesia (Foto: The Star).

Kuala Lumpur: Polisi Malaysia (PDRM) saat ini memburu seorang politikus kontroversial Datuk Seri Jamal Yunos. Yunos dikabarkan sudah kabur ke Indonesia.
 
Pihak kepolisian pun menyatakan akan bekerja sama dengan pihak berwenang Indonesia untuk menemukan Yunos. Diyakini Yunos tengah berada di Pulau Karimun sejak 27 Mei.
 
Dikabarkan bahwa Jamal, yang juga Ketua Umno wilayah Sungai Besar diyakini telah melarikan diri ke Tanjung Balai, Karimun Besar, dua hari setelah keluar di Rumah Sakit Spesialis Ampang Puteri pada Jumat 25 Mei.
 
Menteri Dalam Negeri Tan Sri Muhyiddin Yassin mengatakan, PDRM mengintensifkan upaya untuk melacak kembalinya Jamal ke negara itu.
 
"Saya meminta Inspektur Jenderal Polisi untuk memburu dia yang mengatakan dia di Indonesia. Jadi kami akan meminta untuk bekerja sama dengan polisi di sana mencari dia untuk membawa ke sini," ujar Muhyiddin, seperti dikutip Malaysia Kini, Jumat 1 Juni 2018.
 
"Apa pun itu, jika ia memiliki pelanggaran yang dilakukan kepada polisi untuk mengambil tindakan," katanya kepada wartawan.
 
Sebelumnya, Kepala CID Selangor Fadzil Ahmat menegaskan bahwa PDRM telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Jamal dan upayanya untuk meningkatkan pencarian.
 
Ini setelah Jamal masih gagal merespon dengan baik meskipun telah diberikan waktu yang cukup untuk bekerja sama dalam semua penyelidikan dan prosedur yang sedang berjalan.
 
Jamal, melalui rekaman video hampir delapan menit didistribusikan ke media, mengklaim bahwa ada upaya yang direncanakan oleh pihak berwenang tertentu yang bertanggungjawab atas polisi untuk memaksanya menyerahkan diri.
 
Diketahui Jamal dihadapkan pada dakwaan membawa senjata api dalam keadaan mabuk. Jika dinyatakan bersalah, Jamal terancam penjara satu tahun dan denda 2.000 ringgit Malaysia atau sekitar Rp6,9 juta.


(FJR)