Pengamat: Kisruh Qatar Bisa Dimanfaatkan AS untuk Kepentingan di Timteng

Sonya Michaella    •    Senin, 19 Jun 2017 18:48 WIB
kisruh qatar
Pengamat: Kisruh Qatar Bisa Dimanfaatkan AS untuk Kepentingan di Timteng
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud di Riyadh, 20 Mei 2017. (Foto: AFP/MANDEL NGAN)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kekuatan dunia diharapkan bisa menjadi mediator dalam krisis diplomatik yang sedang dialami negara-negara Teluk dengan Qatar. Kekuatan itu di antaranya Amerika Serikat, Rusia, China, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Nostalgiawan Wahyudi, seorang pengamat dan peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menilai, kisruh Qatar ini bisa dijadikan alat oleh AS untuk lebih 'menancapkan benderanya' di kawasan Timur Tengah dan Teluk.

"Ini (kisruh Qatar) tidak lebih adalah titik temu kepentingan politik AS dan Arab Saudi di kawasan," ungkap Nostalgiawan, ketika ditemui di Gedung LIPI, Jakarta, Senin 19 Juni 2017.

Sementara, sikap diam yang diberikan Rusia dan China juga menimbulkan sejumlah spekulasi dan pertanyaan. Kapan dua negara kuat ini akan berkomentar soal krisis Timur Tengah?

"AS kalau tidak hati-hati, China bisa menggantikan posisinya di kawasan Timur Tengah. Kalau China bergerak, AS bisa kecolongan," tuturnya lagi.

Sikap wait and see dari Rusia dan China ini juga bisa menjadi penentu arah kebijakan dalam menempatkan diri mereka di kawasan Timur Tengah dan berhadapan dengan AS yang memang sudah 'dekat' dengan Arab Saudi, terlebih usai kunjungan Presiden Donald Trump ke Riyadh bulan lalu.

Menurut pendapatnya, sebaiknya negara-negara besar tersebut bersikap netral agar bisa menjadi mediator bagi negara-negara Teluk dan Qatar.

Pada 5 Juni 2017, Arab Saudi tiba-tiba mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar. Langkah ini diikuti oleh Uni Emirat Arab dan Bahrain, sebagai sekutu paling solid dari Arab Saudi lalu diikuti dengan Libya, Maladewa, dan Yaman.

Pemutusan hubungan diplomatik ini didasari dengan tuduhan Arab Saudi terhadap Qatar yang mendukung Ikhwanul Muslimin dan lebih condong ke Iran.

 


(WIL)