Perang Narkoba ala Filipina, Polisi Bunuh 21 Orang

Arpan Rahman    •    Rabu, 16 Aug 2017 12:41 WIB
filipina
Perang Narkoba ala Filipina, Polisi Bunuh 21 Orang
Pengedar narkoba yang tewas di tangan pihak keamanan Filipina (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Manila: Polisi Filipina membunuh setidaknya 21 orang dalam serangkaian serangan di ibu kota Manila. Kejadian ini disebut malam paling berdarah dalam perang Presiden Rodrigo Duterte terhadap obat-obatan terlarang. 
 
Duterte meraih kemenangan telak dalam pemilihan presiden tahun lalu setelah menjanjikan perang narkoba di mana puluhan ribu orang akan terbunuh.
 
Penggerebekan dari Senin sampai Selasa menghasilkan korban tewas terbesar dalam satu malam operasi polisi. Sejak petugas membunuh 16 orang, termasuk seorang wali kota, lewat serangan pada sebuah kota di selatan, 30 Juli.
 
Catatan polisi provinsi Bulacan, pusat industri ringan di utara Manila, mengatakan 26 operasi anti-narkoba dilakukan di 12 kota. Akibatnya 21 "tokoh obat terlarang" terbunuh.
 
"Penggerebekan tersebut juga mengakibatkan penangkapan 64 tersangka, perampasan 21 senjata api. Serta sekitar 100 gram metampetamin, yang dikenal sebagai 'sabu', turut disita," menurut catatan tersebut, seperti dilansir Guardian, Rabu 16 Agustus 2017.
 
Sebuah rincian insiden menunjukkan bahwa 21 orang tewas dalam 16 operasi terpisah. Di mana semua korban tewas diketahui bersenjata, tambah polisi.
 
Bulacan, provinsi berpenduduk sekitar 3,3 juta jiwa, mencatat banyak penangkapan dan pembunuhan tersangka narkoba dalam beberapa bulan terakhir, catatan polisi menunjukkan.
 
Duterte telah berjanji melindungi polisi yang membunuh tersangka narkoba dalam situasi yang mencurigakan.
 
Angka-angka pemerintah menunjukkan bahwa sejak Duterte menjabat tahun lalu sampai 26 Juli, sebanyak 3.451 'tokoh narkoba' sudah tewas dalam operasi polisi.
 
Lebih dari 2.000 korban lainnya terbunuh dalam kejahatan terkait narkoba dan ribuan lainnya tewas dalam keadaan yang tidak dapat dijelaskan, menurut data polisi.
 
Terlepas dari peringatan oleh kelompok hak asasi manusia bahwa Duterte mungkin mengatur kejahatan terhadap kemanusiaan, dia tetap populer di Filipina.



(FJR)