Warga Rakhine yang Terluka Banjiri Rumah Sakit di Bangladesh

Marcheilla Ariesta    •    Sabtu, 09 Sep 2017 13:52 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Warga Rakhine yang Terluka Banjiri Rumah Sakit di Bangladesh
Warga rohingya yang menjalani perawatan di Bangladesh (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Dhaka: Lebih dari 270 ribu etnis Rohingya melarikan diri dari Rakhine, Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh. Dari banyaknya para pengungsi tersebut, tak sedikit di antara mereka yang mengalami luka-luka. 
 
 
Salah seorang pengungsi yang mengalami luka parah adalah Mohammad Junaed. Remaja 16 tahun ini mengalami luka di kepala, diduga akibat ditembak tentara di Myanmar saat dia hendak menyeberang ke Bangladesh.
 
Perawat di rumah sakit mengalami kesulitan merawatnya sebab dia terus meronta kala morfin, obat pereda rasa sakit, mulai hilang kemampuannya.
 
Menurut pihak rumah sakit, remaja ini harus mendapat perawatan intensif karena lukanya berada di kepala, takut mencederai penglihatannya atau otaknya. Sayangnya, keluarganya yang juga adalah pelarian dari krisis kemanusiaan di Rohingya tidak memiliki uang untuk membayar perawatan Junaed.
 
"Mereka (tentara) menembaknya tepat di atas mata dan dia benar-benar trauma, dia sangat menderita," kata ayah Junaed, Mohammad Nabi di Rumah Sakit Chittagong Medical College, Bangladesh kepada AFP, Sabtu 9 September 2017.
 
RS Chittagong Medical College merupakan satu-satunya di wilayah tersebut yang memiliki fasilitas lengkap untuk mengobati luka tembak serius, seperti dialami Junaed. Saking banyaknya pengungsi Rohingya yang dirawat, lebih dari 70 pasien korban krisis kemanusiaan itu dirawat di sana beralaskan lantai yang dingin.
 
Dua pengungsi meninggal di rumah sakit itu lantaran datang dalam kondisi kritis. Ahli bedah Kamal Uddin menyebutkan situasi di rumah sakit tersebut sangat tegang. Pasalnya, dengan keterbatasan sumber daya, rumah sakit ni berada paling dekat dengan perbatasan Bangladesh-Myanmar.
 
"Kami berjuang untuk memberikan perawatan lebih baik lagi kepada mereka,  luka parah yang mereka alami membuat kami berjuang sampai titik darah penghabisan," katanya.
 
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menuturkan 270 ribu etnis Rohingya, membanjiri Bangladesh sejak kekerasan meletus di negara bagian Rakhine dua pekan lalu. 
 
Saksi mata menuturkan seluruh desa dibakar sejak gerilyawan Rohingya melancarkan serangkaian serangan terkoordinasi pada 25 Agustus lalu. Hal ini memincu tindakan keras dari pimpinan militer Myanmar.
 
Indonesia siap bantu Bangladesh
 
Menteri Luar Negeri Retno L.P Marsudi melakukan pertemuan langsung dengan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina dan Menlu Abul Hasan Mahmood Ali pada Selasa 5 September 2017 lalu.
 
Dalam pertemuan terpisah itu, Menlu Retno menegaskan Indonesia bersedia untuk meringankan beban Bangladesh dalam menangani luapan pengungsi Rakhine State yang menyeberang dari Myanmar.
 
 
Menlu menyebutkan pihaknya mendapatkan informasi mengenai kondisi di lapangan dan juga tantangan yang dihadapi di lapangan. Berarti tempat di mana saat ini para pengungsi berada yang mayoritas tentu saja berada di wilayah perbatasan Myanmar-Bangladesh.
 
"Kedua kita sampaikan simpati pada Pemerintah Bangladesh yang memiliki beban cukup besar. Karena jumlah pengungsi yang diterima cukup banyak. Oleh karena itu, saya bawa amanah dari Presiden bahwa Indonesia menawarkan dukungannya dan kontribusi kepada Pemerintah Bangladesh, untuk mengurangi beban dalam menangani krisis kemanusiaan ini," tegasnya.
 
Selama di Bangladesh, Menlu Retno sempat pula melakukan pertemuan dengan perwakilan Organisasi Imigran Internasional/International Organization for Migration (IOM) dan Lembaga PBB yang mengurus pengungsi, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) yang berada di Bangladesh. Pertemuan dilakukan untuk membahas bantuan apa yang bisa diberikan kepada Bangladesh.

 

 
(FJR)