Kondisi Rakhine Makin Parah, Bantuan Makanan Ditunda Masuk

Fajar Nugraha    •    Sabtu, 02 Sep 2017 19:30 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Kondisi Rakhine Makin Parah, Bantuan Makanan Ditunda Masuk
Polisi Myanmar di wilayah perbatasan dengan Bangladesh (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Rakhine: Lembaga World Food Programme (WFP)  menghentikan pengiriman bantuan makanan di wilayah Rakhine. Hal ini dipicu oleh kondisi yang terjadi di Rakhine.
 
Beberapa kali, lembaga kemanusian termasuk WFP, berulangkali dituduh oleh pihak Pemerintah Myanmar membiarkan bantuan yang diberikan beralih ke militan Rohingya. Pemerintah Myanmar sebelumnya menyebut kelompok militan ini menyerang pos perbatasan pada 25 Agustus lalu.
 
 
Sekitar 120 ribu,-sebagian besar warga Muslim Rohingya- bergantung pada bantuan kemanusian di tempat pengungsian sejak 2012. Selama lima tahun terakhir, kekerasan di Rakhine kerap terjadi, tetapi aksi terakhir dianggap sebagai yang terparah.
 
Berbagai lembaga kemanusiaan dituduh bersikap bias dan mendukung warga Rohingya. Kekerasan yang tiba-tiba saja terjadi juga kerap membuat pekerja kemanusiaan menarik operasi mereka.
 
"Seluruh operasi pengiriman bantuan di Rakhine sudah dihentikan atas alasan keamanan. Hal ini mempengaruhi sekitar 250 ribu warga pengungsi dan mereka yang saat ini dinilai rapuh," pernyataan pihak WFP, seperti dikutip AFP, Sabtu 2 Agustus 2017.
 
"Kami masih terus melakukan koordinasi untuk mengirim kembali bantuan ke masyarakat yang terkena dampak (kekerasan), secepat mungkin. Ini termasuk juga kepada warga yang baru saja terkena dampak situasi kekerasan terbaru," jelas pernyataan tersebut.
 
Sejak 25 Agustus lalu, korban tewas akibat kekerasan terbaru di Rakhine ini dilaporkan sudah mencapai 400 orang. Hal itu disampaikan oleh pihak militer Myanmar.
 
 
Namun para pemerhati HAM menduga jumlah korban tewas lebih dari itu. Mereka bahkan memperkirakan ribuan orang tewas dalam kejadian ini.
 
Sebagai perbandingan, kekerasan komunal pada 2012 di Sittwe, ibu kota Rakhine, menyebabkan pembunuhan hampir 200 orang dan pengungsian sekitar 140.000, kebanyakan dari mereka Rohingya.
 
Bencana kemanusiaan
 
Kondisi dari warga Rohingya yang menyelamatkan diri ke Bangladesh dan warga Budha yang pergi ke Sittwe, mengindikasikan jumlah korban tewas mungkin sangat tinggi.
 
Hingga saat ini, wilayah yang paling parah didera kekerasan dilarang diakses oleh jurnalis. Namun muncul laporan yang tidak terkonfirmasi bahwa ada pembunuhan sporadis dan desa yang rumahnya dibakar oleh militer dan militan.


Puing rumah warga di pedesaan warga Muslim Myo Thu Gyi, Rakhine (Foto: AFP).

 
Saat kekerasan berubah jadi tidak terkendali, makanan dan bantuan medis sudah banyak yang dihentikan di tempat pengungsian. 
 
"Bantuan kemanusiaan umumnya dikerahkan kepada mereka yang rapuh ini untuk alasan baik, karena mereka memang membutuhkannya," ujar Juru Bicara badan PBB untuk bantuan kemanusiaan (UNOCHA), Pierre Peron.
 
Sedangkan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan kekerasan yang bisa berubah menjadi bencana kemanusiaan. Dia juga mendesak Pemerintah Myanmar memberikan jaminan keamanan bagi lembaga kemanusiaan.
 
Petinggi Angkatan Darat Myanmar Min Aung Hlaing sebelumnya menyoroti makanan dan obat-obatan berlabel WFP, ditemukan bersama para militan yang sudah tewas. Militan itu diketahui berasal dari kelompok Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).
 
ARSA muncul pada Oktober 2016 lalu ketika mereka melakukan penyerangan yang menewaskan polisi perbatasan Myanmar. Hal ini memicu terjadinya kekerasan, yang PBB sebut sebagai sebagai pembersihan etnis.

 
 
(FJR)