Singapura Tukar Informasi Keuangan dengan Inggris-Australia

Arpan Rahman    •    Sabtu, 17 Sep 2016 19:45 WIB
tax amnesty
Singapura Tukar Informasi Keuangan dengan Inggris-Australia
Ilustrasi uang (Foto: Media Indonesia)

Metrotvnews.com, Singapura: Otoritas pajak dalam negeri Singapura (Inland Revenue Authority of Singapore/IRAS) dan otoritas pajak-bea cukai Inggris (Her Majesty's Revenue and Customs/HMRC) sepakat untuk berbagi informasi akun keuangan.
 
Pernyataan dari IRAS, Jumat (16/9/2016), menyebutkan, perjanjian ini berdasarkan standar pelaporan umum. Standar itu telah disahkan oleh Organisasi untuk Kerja sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dan Forum Global untuk Transparansi dan Pertukaran Informasi untuk Keperluan Pajak.
 
Menurut The Straits Times, atas perjanjian tersebut, IRAS otomatis akan berbagi dengan HMRC informasi finansial dari akun di Singapura yang dimiliki oleh wajib pajak Inggris Raya. Sedangkan HMRC akan melakukan hal yang sama dengan IRA untuk informasi finansial dari akun di Inggris yang dimiliki penduduk Singapura. Perjanjian ini akan dimulai pada September 2018, menurut pernyataan tersebut.
 
Disitat dari Fortune, Singapura juga telah menandatangani perjanjian serupa dengan Australia, yang diumumkan IRAS pekan lalu. Kedua negara sepakat untuk bertukar data keuangan secara otomatis dari para wajib pajak mereka pada September 2018 dalam upaya mencegah penggelapan pajak.
 
Pusat-pusat perbendaharaan bagi perusahaan cangkang seperti Singapura, Swiss, dan Hong Kong menjadi tiga di antara 101 yurisdiksi yang berkomitmen untuk mulai bertukar informasi demi memerangi penggelapan pajak tahun 2018.
 
"Kedua yurisdiksi puas dengan aturan kerahasiaan dan perlindungan data yang berada di wilayah hukum lain untuk menjamin kerahasiaan informasi yang dipertukarkan dan mencegah penggunaan yang tidak sah," Departemen Perpajakan Australian dan IRAS menyatakan dalam sebuah pernyataan bersama.
 
Tahun lalu, Singapura, pusat perdagangan pelbagai perusahaan komoditas terbesar di dunia, berada di bawah pengawasan dari pemerintah beberapa negara penghasil sumber daya seperti Australia. Negara-negara itu menyebutkan dugaan mengenai banyaknya perusahaan yang didirikan di pusat keuangan Asia Tenggara untuk menghindari pajak.
 
Pihak perusahaan menyangkal dugaan menggelapkan pajak. Mereka mengatakan berada di Singapura untuk lebih dekat dengan klien di Asia, demi kearifan lokal dan rute perdagangan, selain berkedudukan sebagai cabang dari pertumbuhan bisnis mereka.
 
 
Tekanan Amnesti Pajak Indonesia
 
Industri perbankan swasta di Singapura sudah menghadapi tekanan dari amnesti pajak Indonesia yang muncul di tengah meningkatnya pengawasan global atas kekayaan yang tidak diumumkan secara terbuka.
 
Fortune menyebutkan Singapura dan Indonesia belum menandatangani perjanjian bilateral untuk berbagi data keuangan. Singapura telah menyatakan sebelumnya hanya akan setuju untuk bertukar informasi dengan negara-negara yang dapat menjamin kerahasiaan data yang mereka berikan dan memberikan timbal balik.
 
Sementara Indonesia menyatakan 12,2 miliar dolar Singapura atau Rp117,3 triliun rupiah dari aset yang dimiliki, ada di Singapura, demikian Kementerian Keuangan Indonesia, Jumat (16/9/2016) menurut Bloomberg yang dikutip Channel News Asia. Namun hanya sebagian kecil -sekitar 14,1 triliun rupiah, atau sekitar 12 persen- telah dipulangkan.


Pelayanan amnesti pajak di gedung BEI (Foto: Media Indonesia)

 
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Jumat (16/9/2016), telah meminta Singapura untuk tidak menghalangi skema amnesti pajak pemerintah Indonesia. Ia menjamin orang-orang Indonesia yang memiliki aset di negara itu tidak akan dicurigai untuk berpartisipasi. 
 
Skema pengampunan pajak Indonesia -yang diluncurkan pada Juli- merupakan prioritas utama Presiden Joko Widodo, yang menginginkan pengembalian dana untuk bantuan membayar besarnya defisit anggaran dan memperluas basis pajak negara. Sebagian besar aset perusahaan cangkang yang diumumkan sejauh ini berasal dari Singapura.
 
Pada 6 September -menurut laporan terakhir dari kementerian keuangan di Indonesia- Singapura menyumbang 85,4 persen dari aset yang ditaruh di luar Indonesia, diikuti oleh Australia dengan 6,7 persen, Amerika Serikat 2,5 persen, dan Swiss 1,8 persen.

(FJR)