Jepang Kirim Kapal Perang ke Laut China Selatan, Tiongkok Minta Penjelasan

Fajar Nugraha    •    Selasa, 14 Mar 2017 21:41 WIB
laut china selatan
Jepang Kirim Kapal Perang ke Laut China Selatan, Tiongkok Minta Penjelasan
Kapal perang Izumo akan melintasi Laut China Selatan (Foto: Reuters).

Metrotvnews.com, Tokyo: Jepang berencana untuk melakukan pelayaran terhadap kapal perang mereka. Kapal perang ini akan melintasi Laut China Selatan pada Mei.
 
Sontak, keinginan pengumuman Jepang itu membuat Tiongkok berang. Mereka pun menuntut penjelasan dari Negeri Sakura.
 
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Tiongkok mengklaim hampir seluruh wilayah perairan yang kaya akan sumber daya alam tersebut. Namun klaim tersebut itu dipatahkan oleh Permanent Court of Arbitration (PCA) Januari lalu.
 
Kapal perang pembawa helikopter milik Jepang, Izumo, baru bertugas dua tahun lalu. Dalam tur kali yang diperkirakan berjalan selama tiga bulan, Izumo akan berlabuh di Singapura, Indonesia, Filipina dan Sri Lanka. Setelah itu kapal ini akan bergabung dengan latihan gabungan dengan India dan Amerika Serikat di Samudera Hindia pada Juli. Sebelum latihan gabungan, kapal itu akan berlabuh di Malabar.
 
Menurut sumber dari pihak Jepang, kapal ini akan kembali pada Agustus. 
 
"Tujuan dari perjalanan ini adalah menguji kemampuan Izumo dengan mengirimnya melakukan misi panjang," ujar sumber yang dimaksud, seperti dikutip Reuters, Selasa 14 Maret 2017.
 
"Kru akan berlatih bersama Angkatan Laut AS di Laut China Selatan," imbuh sumber itu.
 
Sementara pihak Pasukan Bela Diri Jepang menolak untuk memberikan komentar terkait misi kapal perang Izumo itu.
 
Taiwan, Malaysia, Vietnam, Filipina dan Brunei Darussalam mengklaim bagian dari Laut China Selatan. Perairan ini diperkirakan memiliki kekayaan laut yang sangat luar biasa, termasuk cadangan gas dan minyak serta perikanan. Perairan ini juga menghasilkan keuntungan USD5 triliun tiap tahunnya dari perlintasan kapal dagang.
 
Jepang tidak memiliki klaim terhadap perairan ini. Tetapi Negeri Matahari Terbit memiliki sengketa wilayah dengan Tiongkok di Laut China Timur.
 
Mengenai tur ini, Jepang ingin mengundang Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang tengah mendorong hubungan dengan Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir. Izumo akan berlabuh di Subic Bay, sekitar 100 kilometer sebelah barat Manila.
 
Ketika ditanya mengenai kunjungan kapal ini, Duterte mengatakan,"Saya sudah mengundang mereka semua".
 
"Ini adalah perairan internasional, Laut China Selatan bukan bagian dari wilayah kami, tetapi ini bagian dari hak kami," tegas Duterte.
 
Namun Duterte masih belum pasti akan mengunjungi kapal perang itu. Dia hanya mengisyaratkan akan datang jika punya waktu.
 
Tiongkok tuntut penjelasan
 
Tiongkok langsung bereaksi keras ketika mengetahui kapal Izumo akan melintas di Laut China Selatan. Mereka pun mendesak keterangan resmi dari pihak Jepang mengenai rencana pengiriman kapal ini.
 
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying mengaku tidak mengetahui apakah kapal itu akan mengunjungi negara di Asia Tenggara atau memiliki tujuan lain.
 
"Kami belum mendengar pernyataan resmi dari Jepang," tutur Hua.
 
"Jika ini hanya kunjungan biasa ke beberapa negara dan melintas normal ke Laut China Selatan, kami tentunya tidak keberatan. Kami harap pertukaran semacam ini antara dua negara bisa memegang peran mempromosikan kawasan yang damai dan stabil," lanjut Hua.
 
"Tetapi, jika mereka melintasi Laut China Selatan niat berbeda, maka akan menjadi masalah lain," ungkapnya.
 
Hua pun melontarkan nada tuduhan kepada Tiongkok yang menyebutkan bahwa Jepang kerap mendorong permasalahan di Laut China Selatan. Tiongkok menurutnya berharap bisa memegang peranan konstruktif dalam upaya menciptakan perdamaian dan kestabilan.
 
Izumo yang memiliki panjang 249 meter itu, merupakan kapal yang besarnya seperti kapal induk Jepang di era Perang Dunia II dan bisa memuat sembilan helikopter. 
 
Dalam beberapa tahun terakhir, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berupaya menghidupkan kembali militernya. Izumo sendiri didesain sebagai kapal penghancur, karena konstitusi Jepang melarang kepemilikan kapal perang ofensif.



(FJR)