Branding Wajah Indonesia di Kancah Global Harus Diperdalam

Willy Haryono    •    Jumat, 03 Nov 2017 14:57 WIB
diplomasi luar negeri
<i>Branding</i> Wajah Indonesia di Kancah Global Harus Diperdalam
Nadjib Riphat Kesoema, Duta Besar Indonesia untuk Australia dan Vanuatu periode 2012-2017 (Foto: Antara).

Metrotvnews.com, Jakarta: Ali Alatas, Menteri Luar Negeri Indonesia periode 1988-1999 di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto dan BJ Habibie, pernah mengatakan bahwa diplomasi itu seharusnya dilakukan beramai-ramai oleh seluruh elemen bangsa, tidak hanya oleh pejabat. 
 
Cita-cita itu kemudian dieksekusi Hassan Wirajuda, Menlu RI periode 2001-2009, dengan mendirikan Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik di Kementerian Luar Negeri Indonesia. 
 
Tujuan dari diplomasi publik di Indonesia adalah mempererat hubungan antar masyarakat negara-negara sahabat, tak terkecuali Australia yang merupakan salah satu tetangga dekat.
 
"Bagaimana cara kita bersama-sama mengangkat wajah Indonesia dengan cara yang tepat, isi yang benar, tidak menyerang orang. Itu semua harus ada strateginya," ujar Nadjib Riphat Kesoema, Duta Besar Indonesia untuk Australia dan Vanuatu periode 2012-2017, dalam acara seminar Diplomasi Publik Indonesia terhadap Australia di Widya Graha LIPI, Jakarta, Jumat 3 November 2017. 
 
Strategi pertama adalah mengkoordinasikan diplomasi publik ini dengan KemenlU RI. Kedua, lanjut Nadjib, adalah jangan pernah berbohong atau menyembunyikan sesuatu saat menyampaikan pesan ke negara lain. 
 
"Harus menceritakan apa adanya. Boleh dibumbui sedikit, tapi jangan berbohong," tegas Nadjib.
 
Poin ketiga adalah branding wajah Indonesia di kancah global yang perlu lebih diperdalam. Menurut Nadjib, serangkaian komunikasi yang dilakukan dalam branding ini sebaiknya dilakukan dengan bahasa-bahasa ringan yang biasa digunakan masyarakat. 
 
Keempat adalah memahami apa-apa saja yang diinginkan negara sahabat. Nadjib menilai Indonesia sukses melakukan diplomasi publik dengan menayangkan sejumlah film di Festival Film Perth beberapa waktu lalu. 
 
Kelima dan terakhir, "semua harus kita anggap sahabat. Jangan sampai ada yang kita anggap lawan, karena langkah kita akan menjadi terbatas," sebut Nadjib.



(FJR)