Kapal AS Tantang Klaim Tiongkok di Laut China Selatan

Fajar Nugraha    •    Selasa, 12 Feb 2019 06:13 WIB
laut china selatanas-tiongkok
Kapal AS Tantang Klaim Tiongkok di Laut China Selatan
USS Spruance dan USS Preble berlayar di Laut China Selatan. (Foto: CNN).

Beijing: Kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat kembali menantang klaim dari Tiongkok atas Laut China Selatan. Langkah ini dipastikan akan memancing kemarahan Beijing.

Dua kapal perang AS berlayar dekat dengan pulau-pulau yang disengketakan di Laut China Selatan semalam. Kapal perusak berpeluru kendali, USS Spruance dan USS Preble berlayar dalam 22 kilometer dari Kepulauan Spratly sebagai bagian dari apa yang oleh Angkatan Laut AS disebut sebagai ‘operasi kebebasan navigasi’.

“Operasi itu dilakukan untuk menantang klaim maritim yang berlebihan dan menjaga akses ke perairan sebagaimana diatur oleh hukum internasional," ujar Juru Bicara Armada ke-7 Angkatan Laut AS, Clay Doss, mengatakan kepada CNN, Selasa, 12 Februari 2019.

"Semua operasi dirancang sesuai dengan hukum internasional dan menunjukkan bahwa Amerika Serikat akan terbang, berlayar, dan beroperasi di mana pun hukum internasional mengizinkan," kata Doss.

Operasi Senin adalah yang kedua dilakukan di Laut China Selatan yang dilaporkan oleh Angkatan Laut AS tahun ini. Pada Januari lalu, kapal perusak USS McCampbell berlayar dalam 22 kilometer dari Kepulauan Paracel.

Tak lama setelah operasi itu, tiongkok menuduh AS melakukan pelanggaran di perairan teritorialnya dan mengatakan telah mengerahkan rudal yang mampu menargetkan kapal-kapal menengah dan besar.

"Tindakan AS itu melanggar hukum Tiongkok dan hukum internasional, melanggar kedaulatan Kami, merusak perdamaian, keamanan, dan ketertiban regional," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Lu Kang saat itu.

“Tiongkok akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan negara,” tegasnya lagi.

Militerisasi Laut China Selatan

Pada akhir September, USS Decatur juga berlayar sejauh 22 kilometer dari terumbu Gaven dan Johnson di Kepulauan Spratly. Langkah ini juga sebagai bagian dari operasi kebebasan navigasi.

Selama operasi itu, sebuah kapal perusak Tiongkok datang menghampiri dan berdekatan hingga jarak 41 kilometer dari kapal perang AS, memaksanya melakukan manuver untuk menghindari tabrakan. AS menyebut tindakan kapal perang Tiongkok itu tidak aman dan tidak profesional, sementara Beijing mengatakan AS mengancam keselamatan dan kedaulatan Negeri Tirai Bambu.

AS menuduh Beijing memasang rudal dan perangkat keras militer lainnya di pulau-pulau yang disengketakan itu.

"Ada semacam peningkatan yang stabil," tutur Laksamana John Richardson, Kepala Operasi Angkatan Laut AS, ketika ditanya tentang militerisasi Tiongkok di daerah itu.

"Sistem senjata semakin canggih sehingga ini sesuatu yang kami awasi dengan sangat cermat. Kami memiliki minat besar di sana sehingga kami akan tetap di sana," tambahnya, mencatat bahwa sekitar sepertiga dari perdagangan dunia melewati perairan Laut China Selatan.


(FJR)