Bali Democracy Forum ke-11

Milenial Buat Demokrasi Jauh Lebih Berwarna

Fajar Nugraha    •    Kamis, 06 Dec 2018 10:57 WIB
bali democracy forumbdf
Milenial Buat Demokrasi Jauh Lebih Berwarna
Menlu Retno Marsudi dalam pembukaan Bali Demokrasi Forum ke-11, di Nusa Dua, Kamis 6 Desember 2018. (Foto:Dok.Kemenlu RI).

Nusa Dua: Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menanggapi kondisi demokrasi dunia yang terjadi saat ini. Ada kecenderungan demokrasi dalam kondisi tidak bergerak.

“Ada beberapa sebab mengapa demokrasi tidak bergerak ke arah memuaskan bahkan tertekan. Ada beberapa hal yang menyebabkan kondisi ini,” ujar Menlu Retno, dalam pembukaan Bali Democracy Forum di Nusa Dua, Bali, Kamis, 6 Desember 2018.

“Menurut pandangan saya, salah satu alasan adalah demokrasi dan dampaknya tidak cukup inklusif. Banyak dari anggota masyarakat yang tetap termarjinalkan,” imbuh Menlu Retno.

Selama ini, ada banyak institusi demokratis yang gagal memberikan rasa keamanan, kemakmuran untuk masyarakat. Belum lagi perlindungan atas pluralisme dan keberagaman.

“Ini yang menyebabkan kepercayaan publik terhadap demokrasi yang terkikis,” jelasnya.

Menlu menilai sudah menjadi tugas kolektif bagi semua negara memastikan perkembangan demokrasi yang positif di Asia Pasifik. “Sudah menjadi tugas kita untuk memastikan perkembangan demokrasi yang positif di Asia Pasifik, dengan mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada demokrasi,” tutur mantan Dubes RI untuk Belanda itu.

Selain itu Menlu menambahkan, yang dibutuhkan dunia adalah demokrasi yang mempersatukan bukan memecah belah. Sebuah demokrasi yang memberikan harapan bukan ketakutan dan juga demokrasi yang bisa memberdayakan bukan memperlemah kondisi masyarakat. Inilah sebabnya diperlukan partisipasi inklusif dari seluruh stakeholder dalam memperkuat demokrasi.

Keterlibatan sektor swasta dalam menciptakan demokrasi yang inklusif juga menjadi sorotan Menlu. “Sektor swasta harus menjadi pendorong dalam mencapai kemakmuran inklusif. Terutama sebagai rekan terpercaya dalam memperkuat demokrasi,” ucap Menlu.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk memperkuat demokrasi adalah memberdayakan kalangan milenial. Masa depan demokrasi di mata Menlu Retno berada di kalangan milenial. “Milenial bisa membuat demokrasi jauh lebih berwarna. Energi positif dan kreativitas mereka bisa menciptakan inovasi,” tegasnya.

Pemberdayaan perempuan menjadi perhatian utama bagi Indonesia dalam penguatan demokrasi. Menurutnya, perempuan memegang peranan penting dalam pilar demokrasi yang inklusif.

“Perempuan memegang peran penting dalam transformasi sosial. Perempuan bisa menghasilkan konsensud dan solusi damai yang menjadi kunci mengatasi stagnasi politik. Selain juga membuat demokrasi lebih berkembang serta memberikan keuntungan untuk masyarakat,” menurutnya.

Bali Democracy Forum ke-11 menjadi ajang berbagi bersama dari peserta dalam menceritakan demokrasi yang mereka jalankan. Forum ini berlangsung pada 6-7 Desember dan diikuti oleh 92 negara dan tujuh organisasi internasional dengan jumlah peserta hampir 470 orang. 


(FJR)