Indonesia Nilai Uji Rudal Korut Bertentangan dengan Resolusi DK PBB

Fajar Nugraha    •    Rabu, 05 Jul 2017 13:28 WIB
korea utara
Indonesia Nilai Uji Rudal Korut Bertentangan dengan Resolusi DK PBB
Korut luncuran uji coba rudal terbaru pada Selasa 4 Juli 2017 (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah Indonesia menyesalkan uji coba rudal Korea Utara (Korut) terbaru.
 
 
Menurut pihak Kementerian Luar Negeri RI, Pemerintah Indonesia sangat menyesalkan uji coba peluncuran rudal yang dilakukan oleh Korea Utara pada 4 Juli  2017. Uji coba itu dianggap tidak sejalan dengan semangat untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan dan dunia.
 
"Tindakan ujicoba tersebut bertentangan dengan kewajiban Korea Utara terhadap resolusi DK PBB terkait, khususnya resolusi 2270 (2016), 2321 (2016) dan 2356 (2017)," pernyataan Kemenlu RI, yang diterima Metrotvnews.com, Rabu 5 Juli 2017.
 
"Indonesia mendesak Korea Utara agar sepenuhnya memenuhi kewajiban internasionalnya, termasuk melaksanakan sepenuhnya resolusi-resolusi DK PBB dan menghimbau semua pihak untuk menahan diri guna menghindari munculnya ketegangan di kawasan," tegas Kemenlu RI.
 
Lebih lanjut Pemerintah Indonesia menegaskan kembali bahwa stabilitas di semenanjung Korea sangat penting artinya. Indonesia mengajak semua negara untuk berkontribusi terhadap penciptaan perdamaian dan stabilitas di semenanjung Korea.
 
Selasa 4 Juli 2017, rudal Korut tersebut diluncurkan sekitar pukul 00.40 waktu setempat dari sebuah lapangan terbang di Panghyon, 100 kilometer dari Pyongyang.
 
 
Uji coba peluncurkan misil balistik ini dilakukan Korut menjelang pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Jerman di mana Amerika Serikat (AS), China, Jepang dan Korsel diperkirakan akan membahas upaya untuk mengendalikan misil Korut. Peluncuran misil ini juga terjadi menjelang Hari Kemerdekaan AS yang jatuh pada 4 Juli.
 
Pemimpin Korut Kim Jong-un disebut yang memberikan perintah langsung peluncuran rudal itu. Kim menyatakan, uji coba rudal kemarin sangat berhasil di mana menguji kemampuan senjata strategis Korut yang mencakup bom atom, hidrogen dan ICBM atau misil antarbenua.

 

 
(FJR)