Masih Ada Lima WNI yang Ditawan Abu Sayyaf

Willy Haryono    •    Kamis, 07 Sep 2017 20:16 WIB
wni disandera abu sayyaf
Masih Ada Lima WNI yang Ditawan Abu Sayyaf
Kelompok militan Abu Sayyaf. (Foto: Express)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dua orang warga negara Indonesia berhasil melarikan diri dari jeratan kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina, Kamis 7 September 2017. Kedua WNI itu bernama Saparuddin bin Koni dan Sawal bin Maryam.

Dengan bebasnya Saparuddin dan Sawal, saat ini tersisa lima WNI yang masih ditahan Abu Sayyaf. 

Menurut keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri yang diterima Metrotvnews.com, dua dari WNI yang menjadi tawanan Abu Sayyaf disandera pada 5 November tahun lalu di perairan Kretam, Kinabatangan, Sandakan, Sabah, Malaysia. 

Mereka adalah La Utu bin La Raali dan La Hadi bin La Edi. Keduanya berasal dari Wakatobi, Sulawesi Tenggara. 

Sementara tiga sisanya disandera di perairan kepulauan Taganak, Sabah, Malaysia pada 18 Januari tahun ini. Mereka adalah Hamdan bin Saleng asal Kepulauan Selayar, Sulsel; Sudarling Samansung asal Kepulauan Selayar, Sulsel; dan Subandi bin Sattu asal Bulukumba, Sulsel. 

Baca: Dua WNI yang Disandera Abu Sayyaf Dilaporkan Berhasil Melarikan Diri

Penyandera WNI Dilaporkan Tewas
 
Menurut keterangan militer Filipina, dua WNI berhasil melarikan diri saat berlangsung operasi militer melawan Abu Sayyaf di Brgy. Bunot, Kota Indanan, Kepulauan Sulu.

Penyanderaan dua WNI itu berakhir, setelah mereka muncul di pos militer Jolo usai pasukan Filipina terlibat pertempuran dengan para penculiknya. 
 
"Prajurit kami menemukan mereka berada di sebuah pos penjaga, di mana keduanya di atas sebuah kendaraan," ujar Komandan Pasukan Gugus Tugas Gabungan (JTF) wilayah Indanan, Brigadir Jenderal Cirilito Sobejana, seperti dikutip AFP.

Sobejana mengatakan, Abu Sayyaf masih menyekap 15 sandera lainnya. Sebanyak 13 dari mereka adalah warga asing, sementara dua lainnya Filipina.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi telah memastikan bebasnya dua WNI.

"Kedua sandera ini masih berada di markas joint task force di Sulu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Ini adalah prosedur tetap yang selalu dijalani saat pembebasan sandera atau sandera bebas," ucap Menlu Retno.

 


(WIL)