Ratusan Mahasiswa Pakistan dan India Kecam Kekerasan di Rakhine

Sonya Michaella    •    Senin, 11 Sep 2017 11:13 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Ratusan Mahasiswa Pakistan dan India Kecam Kekerasan di Rakhine
Ratusan mahasiswa di Pakistan kecam kekerasan Rakhine. (Foto: Asian Correspondent)

Metrotvnews.com, Islamabad: Ratusan mahasiswa di Pakistan melakukan protes dan kecaman atas kekerasan komunal yang menimpa Rohingya di Rakhine State, Myanmar.

Para mahasiswa yang tergabung dalam Organisasi Mahasiswa Muslim berkumpul di luar Klub Pers Rawalpindi di Pakistan untuk mendesak PBB masuk ke Rakhine dan menghentikan apa yang mereka sebut kebrutalan Myanmar.

Mereka juga mengkritik negara-negara Muslim lainnya yang dianggap hanya diam dengan adanya masalah ini.

Sementara itu di India, seorang mahasiswa yang berasal dari Sekolah Tinggi Lady Shri Ram, yang merupakan tempat Aung San Suu Kyi menimba ilmu, mengatakan bahwa India mengharapkan Suu Kyi bisa menangani krisis ini.

"Ia belajar di India, yang merupakan tanah belas kasih. Kita berharap Aung San Suu Kyi bisa menangani masalah ini dengan menggunakan belas kasih juga," ucap mahasiswa tersebut, dikutip dari Asian Correspondent, Senin 11 September 2017.

Setelah kekerasan terjadi selama lebih dari dua pekan di Rakhine, kelompok pemberontak Arakan Rohingya Salvation Army atau ARSA mendeklarasikan gencatan senjata unilateral.

Disebutkan dalam pernyataan bahwa gencatan senjata akan mulai diberlakukan pada Minggu 10 September 2017. 

Menurut Vivian Tan dari agensi pengungsian PBB (UNHCR), sedikitnya 290 etnis Rohingya telah melarikan diri dari Rakhine ke Bangladesh sejak 25 Agustus. 

Yanghee Lee, Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia di Myanmar, mengatakan pada Jumat lalu bahwa sedikitnya 1.000 orang tewas dalam kekerasan di Rakhine sejak dua pekan terakhir. Ia menyebut angka tersebut kemungkinan besar masih jauh dari jumlah aslinya. 

ARSA membunuh 12 petugas keamanan di pos perbatasan Myanmar hampir dua pekan lalu. Sebagai aksi balasan, militer Myanmar melancarkan operasi perburuan militan yang berimbas pada masyarakat sipil di Rakhine.

Pernyataan ARSA mendorong adanya bantuan kemanusiaan untuk semua korban di Rakhine, "terlepas dari apapun etnis atau agama mereka." ARSA juga meminta pemerintah Myanmar mengikuti gencatan senjata ini dan berpartisipasi dalam membantu korban kekerasan.

 


(WIL)

Etnis Rohingya Masih Diperlakukan tak Adil

Etnis Rohingya Masih Diperlakukan tak Adil

9 hours Ago

Jika Pemerintah Myanmar ternyata tidak konkret dalam menjalankan usulan Pemerintah Indonesia, pihaknya…

BERITA LAINNYA