Intelijen Korsel Akui Memata-matai Jalannya Pemilu

Arpan Rahman    •    Jumat, 04 Aug 2017 15:50 WIB
korea selatan
Intelijen Korsel Akui Memata-matai Jalannya Pemilu
Penghitungan suara saat pemilu Korsel (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Seoul: Badan mata-mata Korea Selatan (Korsel) sudah mengaku melakukan upaya untuk memanipulasi pemilih. Berusaha membantu kelompok konservatif memenangkan pemilihan parlemen dan presiden.
 
Para penyelidik dari National Intelligence Service (NIS) mengkonfirmasi bahwa unit perang siber agen tersebut mengatur dan mengoperasikan 30 tim selama lebih dari dua tahun menjelang pemilu 2012. Badan tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan, Kamis malam 3 Agustus 2017.
 
Mereka menyewa warga sipil yang piawai internet. Berusaha mempengaruhi pendapat pemilih melalui postingan di portal dan Twitter.
 
"Sejumlah tim tersebut dituduh menyebarkan pendapat pro-pemerintah dan menekan pandangan anti-pemerintah, memberi mereka merek sebagai upaya pasukan pro-Korut untuk mengganggu urusan negara," katanya seperti disitir AFP, Jumat 4 Agustus 2017.
 
Pada saat negara tersebut dipimpin oleh tokoh konservatif Lee Myung Bak, dan dalam pemilihan presiden, Desember 2012, dimenangkan oleh koleganya yang kini dipecat Park Geun-Hye, yang mengalahkan tokoh liberal Moon Jae-In.
 
Moon memenangkan pilpres Korsel pada Mei tahun ini setelah Park dipecat. Diberhentikan karena korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, dan memerintahkan penyelidikan.
 
Dia sudah berjanji buat mereformasi NIS agar tidak ikut campur dalam pemilihan dan memfokuskan pada pengumpulan dan analisis intelijen mengenai Korea Utara (Korut) dan urusan luar negeri.
 
Seorang juru bicara partai Park, yang kini menjadi oposisi dan mengganti nama Liberty Korea, mengatakan pada hari Jumat bahwa penyelidikan tersebut "bermotif politik".
 
"NIS mengatakan akan memisahkan diri dari politik tapi ikut campur dalam politik lagi dengan memulai penyelidikan ini," kata Kang Hyo-Sang dalam sebuah pernyataan.
 
Mantan kepala NIS Won Sei-Hoon diadili buat kali kedua sebab memimpin kampanye daring melawan Moon, setelah keyakinan awalnya dibatalkan sebab mengajukan banding.
 
Tapi hasil investigasi NIS menunjukkan skala manipulasi pemilih jauh lebih luas dari perkiraan sebelumnya.
 
Penyelidikan internal juga menemukan Won memerintahkan agen tersebut demi memberangus pers. Memberikan dukungan kepada kelompok sipil konservatif pro-pemerintah dan menempatkan beberapa politisi oposisi utama di bawah pengawasan rahasia.
 
NIS modern telah ternoda oleh serangkaian skandal. Termasuk pembuatan dokumen untuk kasus mata-mata palsu terhadap mantan pejabat kota Seoul yang berhasil lolos ke Korsel dari Korut pada 2004.



(FJR)