Insiden Maut Pembangkit Listrik di Tiongkok, Korban Tewas Capai 74

Arpan Rahman    •    Jumat, 25 Nov 2016 13:05 WIB
kecelakaan tiongkok
Insiden Maut Pembangkit Listrik di Tiongkok, Korban Tewas Capai 74
Tim penyelamat upayakan evakuasi korban kecelakaan (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Beijing: Jumlah korban tewas akibat runtuhnya perancah di lokasi konstruksi di Tiongkok timur meningkat menjadi 74. 
 
Media pemerintah, Jumat 25 November, menyebut ini adalah insiden keselamatan kerja terburuk di Tiongkok dalam lebih dari dua tahun terakhir.
 
Dua orang korban lainnya terluka setelah penopang kerja ambruk di menara pendingin pembangkit listrik yang sedang dibangun, Kamis 24 November. Tak ayal lagi, batang-batang pipa besi, keping baja, dan palang papan runtuh terhumbalang menimpa para pekerja, menurut kantor berita Xinhua.
 
"Menara pendingin sedang dibangun di kota Fengcheng, provinsi Jiangxi, ketika perancah yang jebol lalu runtuh ke bawah," ungkap seorang pejabat Administrasi Keselamatan Kerja lokal yang hanya menyebut nama keluarganya, Yuan, melalui sambungan telepon, seperti dikutip Daily Mail dari laporan Associated Press, Jumat (25/11/2016). 
 
Sekitar 500 petugas penyelamat, termasuk polisi paramiliter, menggali puing-puing dengan garukan tangan mereka, menurut stasiun televisi pemerintah CCTV. Tayangan menunjukkan reruntuhan berserakan di dasar cekungan menara pendingin beton setinggi 165 meter yang berdiri di bagian tengah struktur yang belum selesai.


Kecelakaan konstruksi yang terjadi di Tiongkok (Foto: AFP).
 
 
Presiden Tiongkok Xi Jinping mendesak pemerintah daerah agar belajar dari kecelakaan tersebut dan mereka harus bertanggung jawab. Dia mengatakan, bahwa setelah kecelakaan kerja ini, Dewan Negara, Kabinet Tiongkok, harus melakukan inspeksi menyeluruh di setiap lokasi pekerjaan demi mengurangi risiko.
 
Tiongkok telah mengalami beberapa kecelakaan serius dalam keselamatan kerja, beberapa tahun terakhir. Insiden itu dituding lantaran peraturan pengawasan yang lemah, korupsi sistemik, dan tekanan meningkatkan produksi di tengah perlambatan ekonomi.
 
Jebolnya perancah terjadi di hari yang sama Yang Dongliang, mantan kepala Administrasi Keselamatan Kerja Negara, disidangkan di pengadilan Beijing karena diduga menerima suap USD4,3 juta sejak 2002 sampai tahun lalu, saat ia naik pangkat menjadi seorang pejabat di Tianjin sebelum bergabung dengan badan pengawas.
 
Yang dipecat pada Agustus 2015 terkait ledakan besar di sebuah gudang kimia ilegal di pelabuhan utara Tianjin yang menewaskan 173 orang, Kebanyakan korban, petugas pemadam kebakaran dan polisi. Kepala perusahaan logistik dijatuhi hukuman mati yang ditangguhkan atas kasus ini.
 
Awal bulan ini, 33 pekerja tambang tewas dalam ledakan gas di sebuah tambang batu bara di Chongqing, barat daya Tiongkok. Pada 2014, satu ledakan meletus di bengkel produksi logam menewaskan 146 orang.
 
Kecelakaan lainnya menyalahkan lemahnya standar keselamatan dalam beberapa tahun terakhir juga telah menyebabkan korban jiwa yang signifikan.
 
Pada Juni 2015, sebanyak 442 orang tewas dalam  sebuah kapal pesiar-modifikasi yang terbalik di Sungai Yangtze. Keputusan keliru yang diambil oleh nakhoda dan kru kapal dituding menjadi penyebabnya. Sementara 81 orang tewas pada Desember tahun lalu, tatkala gunung buatan runtuh menimpa hampir tiga lusin bangunan di pusat manufaktur di selatan, Shenzhen.
 
Pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara 1.000-megawatt di pusat kecelakaan, Kamis kemarin, dimulai di Fengcheng pada akhir 2015 dan diharapkan selesai pada November 2017. Para pejabat provinsi mengadakan konferensi pers yang disiarkan televisi, Kamis malam, di mana mereka mengungkapkan belasungkawa kepada keluarga pekerja.
 
Penyebab keruntuhan itu sedang diselidiki. Ratusan pembangkit listrik tenaga batubara sedang dibangun di Tiongkok.
 
Beijing sudah berjanji memecahkan masalah tingginya kelebihan emisi dari pasokan daya dan efek gas rumah kaca dalam jangka menengah. Namun para perencana ekonomi mengatakan sebelumnya, mereka berniat meningkatkan kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara menjadi seperlima selama lima tahun ke depan, atau setara hasil ratusan tambang batu bara baru.

(FJR)