Pada KTT ASEAN, Filipina Bela Tindakan Keras Melawan Narkoba

Fajar Nugraha    •    Rabu, 07 Sep 2016 10:58 WIB
ktt asean
Pada KTT ASEAN, Filipina Bela Tindakan Keras Melawan Narkoba
Presiden Filipina Rodrigo Duterte di KTT ASEAN di Laos (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Vientiane: Pemerintah Filipina membela tindakan keras yang dilakukan dalam perang melawan narkoba. Pembelaan dilakukan oleh Filipina di sela-sela KTT ASEAN di Vientiane, Laos.
 
Sejak Rodrigo Duterte menjadi Presiden Filipina Juni lalu, tindakan keras dilakukan terhadap pelaku kejahatan narkoba. Ribuan orang dilaporkan tewas dalam operasi yang dilakukan oleh pihak keamanan Filipina.
 
"Kami bukan tukang jagal yang melakukan pembunuhan tanpa kejelasan," ujar Kepala Polisi Filipina Ronald Dela Rosa dalam sebuah sebaran yang dibagi di sela-sela KTT ASEAN, seperti dikutip Reuters, Rabu (7/9/2016).
 
Pemberitahuan di KTT ASEAN di Vientiane, Laos ini disebar di saat pembatalan pertemuan antara Presiden Duterte dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Pembatalan terjadi karena Duterte menyebut Obama dengan ucapan tidak sopan.
 
Duterte sendiri pada Selasa 6 September meminta maaf kepada Presiden Obama. Menurutnya ucapan tersebut hanya bersifat serangan pribadi.
 
Sejak berkampanye untuk kursi presiden, Duterte berjanji untuk membasmi kejahatan dan korupsi dalam waktu enam bulan. Sumpahnya untuk memerangi pengedar narkoba pun menjadi tujuan utama.


Pengedar narkoba di Filipina yang tewas ditembak (Foto: AFP)


 
Dukungan untuk kampanye ini banyak didukung oleh banyak rakyat Filipina. Tetapi banyaknya pembunuhan telah menimbulkan kekhawatiran bagi AS, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta sekutu Filipina lainnya.
 
Pekan lalu muncul laporan bahwa sejak 1 Juli jumlah korban yang tewas akibat operasi anti-narkoba ini mencapai 2.400. Sekitar 900 di antaranya tewas dalam operasi polisi dan sisanya masih diselidiki. Hal tersebut memicu tuduhan bahwa terjadi pembunuhan di luar hukum.
 
"Kampanye melawan narkoba ini sudah menghasilkan banyak pelaku yang menyerahkan diri, lebih dari 600 ribu orang," sebut selebaran dari pihak Pemerintah Filipina.
 
Selebaran itu juga menyebutkan sejak Duterte menjadi presiden, 7.532 operasi narkoba dilakukan. 12.972 pengguna juga sudah ditangkap dan sejak Juli  kejahatan narkoba di Filipina pun berkurang hingga 49 persen.

(FJR)