Presiden Suriah Bantah Didikte Rusia

Eko Nordiansyah    •    Senin, 11 Jun 2018 07:02 WIB
konflik suriah
Presiden Suriah Bantah Didikte Rusia
Presiden Suriah Bashar al-Assad dan Presiden Rusia Vladimir Putin. AFP/Mikhail Klimentyev.

Beirut: Presiden Suriah Bashar al-Assad membantah tudingan memberikan kendali gerakan diplomatik dan militer kepada Rusia. Ia menegaskan, Rusia tak pernah mendikte Suriah sekalipun.

"Mereka (orang-orang Rusia) tidak pernah, selama hubungan kami, mencoba mendikte, bahkan jika ada perbedaan," kata al-Ashad seperti dilansir Reuters, Senin 11 Juni 2018.

"Adalah wajar untuk memiliki perbedaan antara pihak-pihak yang berbeda, baik di dalam pemerintah kita atau pemerintah lainnya; Rusia-Suriah, Suriah-Iran, Iran-Rusia, dan di dalam pemerintah itu sangat alami, tetapi pada akhirnya satu-satunya keputusan tentang apa yang terjadi di Suriah dan apa yang akan terjadi, itu adalah keputusan Suriah," kata Bashar.

Dukungan Iran dan Rusia sangat penting bagi upaya perang Bashar. Tapi agenda yang berbeda dari sekutunya di Suriah telah menjadi lebih jelas akhir-akhir ini ketika Israel menekan Rusia untuk memastikan Iran dan sekutunya tidak memperluas kekuasaan militer mereka di negara itu.

Sebelumnya, Reuters melaporkan penempatan pasukan Rusia di Suriah dekat perbatasan Lebanon telah menyebabkan gesekan dengan pasukan yang didukung Iran. Hal ini menjadi kasus langka karena Rusia bertindak tidak sesuai dengan sekutu Bashar, Iran.

Seruan Rusia baru-baru ini agar semua pasukan non-Suriah untuk meninggalkan Suriah Selatan dinilai juga ditujukan buat Iran, selain pasukan AS yang berbasis di daerah Tanf di perbatasan Suriah-Irak.

Dalam wawancara, Bashar mengharapkan perang di Suriah akan berakhir dalam kurang dari setahun. Bashar juga menyatakan kembali tujuannya untuk mengambil kembali  Suriah.

Dia mengatakan keterlibatan kekuatan asing seperti Inggris, Amerika Serikat dan Prancis memperpanjang konflik. Keterlibatan mereka juga memperlambat resolusi situasi di wilayah yang dikuasai pemberontak di Suriah barat daya.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Suriah dan pasukan sekutu telah merebut kembali daerah oposisi yang terkepung di Suriah utara, Homs, dan menghancurkan kantong pemberontak terakhir di dekat ibu kota.

Damaskus kini mengarahkan perhatiannya pada wilayah Suriah barat daya yang dipegang oposisi yang berbatasan dengan Israel dan Yordania.

"Kami akan mencapai rekonsiliasi di kawasan selatan dari Suriah hanya dua minggu yang lalu, tetapi Barat mengganggu dan meminta para teroris untuk tidak mengikuti jalan ini guna memperpanjang konflik Suriah," kata Bashar.

Pemerintah Suriah menyebut semua kelompok yang menentang aturannya sebagai teroris.

Amerika Serikat ingin mempertahankan zona de-eskalasi yang disetujui tahun lalu dengan Rusia dan Yordania. Sedangkan, Bashar ingin mengembalikan daerah itu di bawah kendali negara.


(DRI)