Paus Fransiskus Gelar Misa Bersama Umat Katolik Myanmar

Marcheilla Ariesta    •    Rabu, 29 Nov 2017 13:42 WIB
paus fransiskusmyanmar
Paus Fransiskus Gelar Misa Bersama Umat Katolik Myanmar
Paus Fransiskus melakukan misa terbuka di Myanmar (Foto: AFP).

Yangon: Lautan umat Katolik Myanmar berkumpul di lapangan sepak bola di Yangon, pagi waktu setempat, untuk melaksanakan misa terbuka bersama Paus Fransiskus.
 
Dalam khotbahnya, Paus Fransiskus mengajak agar semua umat Katolik hidup dalam belas kasihan.
 
"Minglabar," ucap Paus Fransiskus, yang merupakan bahasa Myanmar berarti halo, dalam membuka khotbahnya, seperti dilansir dari laman AFP, Rabu 29 November 2017.
 
"Saya dapat melihat bahwa Gereja di sini masih hidup," ujarnya pada 700 ribu umat Katolik Myanmar.
 
Sebelumnya Paus Fransiskus tersenyum dan melambaikan tangan saat dia keluar dari mobilnya. Para umat Katolik memegang bendera Myanmar dan mengenakan pakaian warna-warni dari berbagai kelompok etnis di negara tersebut.
 
Salah seorang umat Katolik mengaku sangat senang bisa bertemu dengan Paus. "Saya tidak pernah bermimpi melihat Paus seumur hidup saya," seru Meo.
 
Misa ini dilakukan sebelum Paus bertolak ke Bangladesh untuk kunjungan kepedulian terhadap krisis kemanusiaan di Rakhine. Namun, Paus juga akan bertemu dengan para pemimpin umat Buddha. Kunjungan tersebut dinilai akan sangat politis dan religius.
 
Panglima Militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing menegaskan bahwa di Myanmar tidak ada diskriminasi agama maupun pembersihan etnis. Pernyataan ini ia tegaskan saat Paus Fransiskus berkunjung ke Myanmar dan bertemu dengan dirinya juga pemimpin de facto Aung San Suu Kyi.
 
"Myanmar tidak ada diskriminasi agama sama sekali. Demikian pula militer kami, bertindak demi perdamaian dan stabilitas negara," kata Jenderal Min, kemarin.
 
Paus Fransiskus yang sedang mengunjungi Myanmar, menyebarkan psan damai di mana ia telah berkali-kali berbicara soal Rohingya dan kekerasan di Rakhine harus dihentikan. 
 
Dia juga membela para etnis Rohingya yang disebut 'saudara-saudari'. Paus dilarang mengucapkan kata 'Rohingya' selama berada di Myanmar. Jika dia menyebut kata itu, berisiko memprovokasi kemarahan kaum nasionalis Buddhis.



(FJR)