Kabut Asap Beracun, Ratusan Sekolah di Bangkok Tutup

Arpan Rahman    •    Kamis, 31 Jan 2019 17:48 WIB
thailand
Kabut Asap Beracun, Ratusan Sekolah di Bangkok Tutup
Pemerintah Thailand telah melakukan berbagai cara untuk menghilangkan asap. (Photo:AFP)

Bangkok: Asap beracun memaksa pihak berwenang Bangkok menutup hampir 450 sekolah pada Rabu. Otoritas setempat pun berupaya menanggulangi krisis polusi yang telah menimbulkan kekhawatiran luas.

Ibu kota Thailand diselimuti kabut keruh selama beberapa pekan terakhir. Hal ini memaksa warga untuk memakai masker saat bepergian keluar. Keadaan ini juga memicu kritik kepada pemerintah di media sosial.

Kabut asap disebutkan berasal dari knalpot kendaraan, konstruksi yang tidak terkendali, pembakaran lahan, dan polusi dari pabrik-pabrik yang terjebak di udara kota.

Pihak berwenang sudah menebarkan awan buatan buat memancing hujan, menyemprot jalan layang dengan air untuk menangkap polutan mikro, dan bahkan meminta orang tidak membakar dupa dan kertas selama perayaan Tahun Baru Imlek.

Langkah-langkah itu sejauh ini dicemooh banyak warga Bangkok. Sementara stok masker sudah habis di banyak toko.

Tetapi pada Rabu, Pemerintah Metropolitan Bangkok meningkatkan peringatan kesehatan, memerintahkan semua 437 sekolah umum untuk tutup dari jam makan siang hingga Jumat. Sekaligus menetapkan 1.500 kilometer persegi kota itu sebagai "wilayah kontrol".

"Situasinya akan buruk hingga 3 hingga 4 Februari, jadi saya memutuskan untuk menutup sekolah," kata Gubernur Bangkok Aswin Kwanmuang, seperti disitat dari laman Guardian, Kamis 31 Januari 2019.

Armada pesawat tanpa awak (drone) akan dikerahkan menyebarkan larutan cair bergula untuk membantu membersihkan udara dari partikel mikroskopis. Tidak jelas seberapa efektif cara itu akan menyapu kabut asap yang meliputi kota.

Aswin juga mengatakan balai kota mungkin segera mengeluarkan peringatan agar tidak berolahraga di taman.

Air Visual, monitor independen indeks kualitas udara online (AQI), pada Kamis mematok Bangkok pada level 171 atau  "tidak sehat", naik dari 156 pertengahan bulan ini.

Pengukurannya lebih tinggi dari beberapa kota di Tiongkok, tetapi jauh di bawah ibu kota India, New Delhi.

Direktur Greenpeace Thailand, Tara Buakamsri, mengatakan level di Bangkok adalah yang terburuk dalam "setidaknya satu tahun ke belakang".


(FJR)