Tersebar Foto dan Video Palsu Konflik Rakhine State

Sonya Michaella    •    Senin, 04 Sep 2017 10:58 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
Tersebar Foto dan Video Palsu Konflik Rakhine State
Anak-anak Rohingya berjalan di perbatasan Bangladesh. (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Nay Pyi Taw: Gelombang kekerasan terbaru di Rakhine State kembali pecah pada 25 Agustus kemarin. Sayang, masyarakat yang harusnya bisa mendukung dan meredam konflik, malah termakan atau menyebarkan foto-foto palsu dari insiden tersebut.

Pekan lalu, militan dari kelompok baru yang menamakan dirinya Arakan Rohingya Salvation Army menyerang sekitar 25 pos polisi. Bentrokan juga dilaporkan banyak terjadi di wilayah lainnya yang diketahui juga melibatkan warga Rohingya untuk melawan pasukan keamanan.

Menurut laporan yang didapat BBC, dalam beberapa kasus, pasukan keamanan, yang juga didukung oleh warga sipil Buddha juga membakar desa Rohingya. 



Dengan akses wartawan yang sangat terbatas ke wilayah Rakhine, informasi yang didapat pun menjadi samar dan simpang siur. Foto dan video yang diklaim berasal dari kekerasan 25 Agustus tersebut beredar luas. Sebagaian besar meradang, sebagian besar tak percaya.

Tak hanya Rohingya, Muslim Myanmar dan Buddha Myanmar juga diserang. Sebagian dari mereka tewas. PBB memperkirakan ada 40 ribu Rohingya yang memasuki perbatasan Bangladesh, membawa cerita yang mengerikan.

Belum usai tersebar foto dan video palsu, Wakil Perdana Menteri Turki, Mehmet Simsek me-retweet empat foto soal Rohingya di akun Twitternya. Ia mendesak masyarakat internasional untuk menghentikan pembersihan etnis Rohingya.

Foto pertama menunjukkan sejumlah jasad yang membusuk. Sejumlah warga Myanmar menantang Simsek untuk membeberkan keaslian foto tersebut. Pasalnya, foto itu ternyata adalah foto korban badai topan Nargis pada Mei 2008 silam.



Ini menunjukkan bahwa foto tersebut bukan dari bentrokan 25 Agustus di Rakhine State.

Foto lainnya, sudah dipastikan BBC, bahwa foto tersebut berasal dari Rwanda pada Juli 1994. Foto tersebut bahkan digunakan untuk kompetisi fotografi yang memenangkan World Press Award.

Foto terakhir menunjukkan orang-orang terbenam di kanal. Namun, telah dipastikan bahwa foto tersebut adalah korban banjir di Nepal.

Unggahannya di-retweet lebih dari 1.600 kali dan disukai lebih dari 1.200 akun Twitter. Namun, keaslian foto-foto tersebut tampaknya diragukan. Tiga hari kemudian, Simsek menghapusnya.

 


(WIL)