ACT Koordinasikan Bantuan 2.000 Ton Beras untuk Pengungsi Rakhine

   •    Selasa, 19 Sep 2017 16:44 WIB
konflik myanmarrohingyapengungsi rohingya
ACT Koordinasikan Bantuan 2.000 Ton Beras untuk Pengungsi Rakhine
Bantuan beras seberat 2.000 ton dari Indonesia untuk pengungsi Rakhine yang terkumpul lewat koordinasi Aksi Cepat Tanggap. (Foto: ACT)

Metrotvnews.com, Jakarta: Jumlahnya terhitung 80 ribu karung beras. Setiap masing-masing karung memiliki dimensi berat sekira 25 kilogram. Artinya jika ditotal, ada 2 juta kg beras yang berhasil terkumpul. Jumlah sebanyak itu setara dengan berat bersih 2000 ton beras! 

Ini bukan tentang menghitung berapa jumlah panen beras yang bisa diproduksi dalam satu wilayah. Bukan pula tentang urusan jual beli beras yang hanya berakhir pada cerita antara si penjual dan si pembeli. 

Tapi ini tentang lompatan besar empati atas nama Bangsa Indonesia. Empati dan kepedulian yang dikumpulkan setelah mendengar kabar tentang etnis Rohingya yang terusir. Ini tentang gerakan kemanusiaan luar biasa yang berhasil terkumpul tak kurang dari hitungan dua pekan. Ya, hanya butuh dua pekan saja untuk menyiapkan dan mengumpulkan sejumlah total 2 juta kg beras. 

Ribuan petani lokal dilibatkan dalam catatan epik kemanusiaan Bangsa Indonesia ini. Ratusan sampai seribu-an hektare sawah menjadi pemasoknya di dua Kabupaten yang berbeda; Dari Kabupaten Blora Kecamatan Cepu, hingga Kabupaten Bojonegoro. 

Empati tentang kisah dari orang-orang Rohingya diunggah, serentak menyebar luas, kemudian bermuara pada kepedulian untuk membantu sesama. Ketika konflik kemanusiaan terjadi di pelupuk mata, maka Bangsa Indonesia tak bisa berdiam diri, harus berbuat sesuatu. 



Untuk pertama kalinya dalam sejarah kemanusiaan bangsa ini, paket bantuan dalam jumlah terbesar bakal segera dikirimkan untuk puluhan ribu keluarga-keluarga Rohingya yang kini terkucil, terusir, dan dirundung ketakutan. 

Atas nama Bangsa Indonesia, bantuan kemanusiaan masif sebesar 2.000 ton beras bakal dilayarkan langsung dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, menuju ke Pelabuhan Chittagong di Bangladesh. 

Dari Chittagong, tepat di sepanjang perbatasan antara Myanmar, membludak luar biasa jumlah pelarian pengungsi Rohingya yang sebelumnya berasal dari Sittwe, Negara Bagian Rakhine. Di Sittwe, banyak warga Rakhine -- terutama etnis Rohingya -- melarikan diri dari operasi militer Myanmar yang memburu kelompok militan ARSA. 

Rahadiansyah, selaku anggota Tim Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk Rohingya yang tiba di Bangladesh sejak Jumat 1 September 2017, mengungkapkan bahwa kondisi mereka begitu memprihatinkan. Banyak dari mereka yang terlihat ketakutan dan lunglai, tak terkecuali anak-anak.

"Bayi dan balita kekurangan asupan gizi karena tidak mendapatkan asi dari ibunya. Ibu mereka cukup stres sehingga ASI pun tidak keluar. Apalagi para lansia yang terlihat ringkih dengan tongkat jalan mereka. Mereka butuh suplemen untuk menambah stamina tubuh," papar Rahadiansyah, yang akrab disapa Anca, dalam keterangan tertulis yang diterima Metrotvnews.com, Selasa 19 September 2017.

Urgensi pemberian bantuan yang dibutuhkan pengungsi baru Rohingya di Bangladesh semakin digaungkan. Saat ini, Anca mengungkapkan setidaknya ada empat kebutuhan utama yang sangat dibutuhkan, di antaranya pangan, nutrisi dan suplemen, shelter, dan pakaian layak pakai.

"Di atas itu semua, panganan siap saji paling dibutuhkan saat ini," tambah Anca.



Bantuan pangan terbesar, 2.000 ton dari Cepu dan Bojonegoro

Mengapa beras? Tak ada yang mengelak, bahwa Indonesia negeri agraris dengan kekayaan produksi beras yang melimpah. Apalagi, beras pun menjadi makanan utama sebagian besar masyarakat Asia. 

Tidak terkecuali, beras menjadi makanan pokok yang dikonsumsi ratusan ribu sampai sejuta lebih komunitas Rohingya yang terkucil dan tertindas.  Atas dasar inilah, Kecamatan Cepu di Kabupaten Blora juga Kabupaten Bojonegoro sekali lagi mendapatkan amanah spesial untuk menyiapkan beras-beras terbaik. 

ACT menampung amanah besar masyarakat Indonesia, mengulang kembali catatan epik pengiriman bantuan ke Somalia dan Afrika lewat Kapal Kemanusiaan tahap ke-1 dan tahap ke-2, beberapa bulan lalu. 

Jika Kapal Kemanusiaan episode sebelumnya berlayar untuk Somalia, kali ini 2.000 ton beras dalam Kapal Kemanusiaan ke-3 bakal berlabuh ke Chittagong, Bangladesh. 

Sebelum Kapal Kemanusiaan berangkat, ada berbagai kesibukan yang terekam selama dua pekan terakhir, khususnya di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Lewat Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) di Desa Jipang – sebuah konsep pengelolaan wakaf di ranah pembibitan dan pengelolaan hasil tani yang dikelola Aksi Cepat Tanggap – beras ribuan ton disiapkan untuk Rohingya.  



Sebelum konvoi truk kontainer datang merapat ke Jipang, para petani sudah sibuk memanen padi. Ngadi, Kepala Desa Jipang mengatakan, semangat untuk membantu Rohingya.

"Tak disangka, amanah untuk siapkan ribuan ton beras untuk membantu Rohingya ini datang tepat di momen panen raya Desa Jipang," ujar Ngadi. 

Kurang lebih sepekan sebelumnya, dengan tangan cekatan, para petani memarit padi untuk selanjutnya dikumpulkan dalam satu wadah besar. Padi-padi yang telah dikumpulkan lantas dimasukkan ke dalam suatu mesin pengolah untuk dipisahkan antara padi dan tangkainya. 

"Ini bukan sekadar hiruk pikuk menyambut masa panen ketiga dalam setahun terakhir. Ini tentang ikhtiar besar masyarakat Indonesia untuk membantu saudara-saudara Rohingya yang tengah diterpa krisis kemanusiaan," tutur Ngadi. 

Dimulai sejak hari Sabtu 16 September, selama empat hari proses muat beras dari gudang ke dalam kontainer dilakukan per 500 ton setiap harinya. Puncaknya,  Selasa ini iring-iringan 20 kontainer terakhir yang dimuat dari Cepu bakal berjalan konvoi menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Iring-iringan konvoi truk kontainer Kapal Kemanusiaan untuk Rohingya dilepas langsung oleh Bupati Blora, Djoko Nugroho. 

Tiba di Surabaya, 2.000 ton beras Kapal Kemanusiaan untuk Rohingya bakal dilayarkan melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Ditotal keseluruhan, beras 2.000 ton untuk Rohingya bakal dimuat dalam 80 kontainer ukuran 25 ton/kontainer. 

Jika tak ada aral melintang, Kapal Kemanusiaan rencananya bakal dilepas hari Kamis 21 September oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan Presiden ACT Ahyudin di Dermaga Terminal Petikemas Surabaya.



 


(WIL)