Swedia Nilai Indonesia Punya Potensi Besar di Bidang Ristekdikti

Sonya Michaella    •    Selasa, 03 Oct 2017 15:32 WIB
indonesia-swedia
Swedia Nilai Indonesia Punya Potensi Besar di Bidang Ristekdikti
Manajer Kamar Dagang Swedia cabang Indonesia, Anders Wickberg (kiri) bersama Dubes Bagas Hapsoro, (Foto: Metrotvnews.com/Sonya Michaella)

Metrotvnews.com, Jakarta: Hubungan Indonesia dan Swedia di bidang riset, teknologi dan pendidikan tinggi, sudah terjalin cukup lama. Namun Swedia akan lebih melebarkan sayapnya lagi di bidang kerja sama ini.

“Indonesia sangat potensial di bidang ini. Salah satu kunci dan kesempatan bagi Indonesia juga untuk meningkatkan investasi dengan Swedia,” kata Manajer Kamar Dagang Swedia cabang Indonesia, Anders Wickberg kepada awak media di Jakarta, Selasa 3 Oktober 2017.

“Swedia juga terus mendorong perusahaan-perusahaannya untuk bergerak di Indonesia, terutama di teknologi,” lanjut dia.

Ia melanjutkan, Swedia dan Indonesia terus berkolaborasi untuk mendukung satu sama lain di berbagai bidang.

“Sangat penting bagi perusahaan Swedia berkembang di Indonesia dan juga berinvestasi di sini,” tutur dia.

Tak hanya itu, ujarnya, Swedia pun butuh tenaga kerja dengan kemampuan apik dan berpendidikan. Indonesia dinilai sebagai mitra yang tepat.

Sementara itu, Duta Besar RI untuk Swedia, Bagas Hapsoro mengatakan bahwa warga Indonesia semakin banyak memiliki kesempatan melanjutkan studi di Swedia.

“Di pendidikan tinggi, 10 universitas Swedia kan ada di daftar universitas beasiswa LPDP. Kesempatan bagi anak-anak kita semakin banyak untuk sekolah di Stockholm,” ungkap Dubes Bagas.

Dubes Bagas menambahkan, setelah kunjungan Raja Swedia, Carl XVI Gustaf dan Ratu Silvia ke Indonesia pada Mei lalu, hubungan Indonesia dan Swedia semakin meningkat, terutama di bidang-bidang krusial seperti investasi dan ekonomi.


(WIL)


Trump Sebut AS Siap Tingkatkan Senjata Nuklir

Trump Sebut AS Siap Tingkatkan Senjata Nuklir

23 hours Ago

Trump menyebut Rusia tidak patuh terhadap semangat dari perjanjian nuklir era Perang Dingin.

BERITA LAINNYA