Pencarian ke Tiap Rumah Dilakukan Usai Banjir Di Jepang

Arpan Rahman    •    Selasa, 10 Jul 2018 16:09 WIB
jepang
Pencarian ke Tiap Rumah Dilakukan Usai Banjir Di Jepang
Perdana Menteri Shinzo Abe membatalkan perjalanan luar negeri dan akan mengunjungi Okayama pada Rabu. (Foto:AFP)

Kurashiki: Petugas penyelamat melakukan pencarian dari rumah ke rumah, Selasa 10 Juli, sementara semakin sulit menemukan korban yang selamat. Banjir dan tanah longsor mematikan telah menelan 141 jiwa dalam salah satu bencana terburuk yang terkait cuaca di Jepang selama beberapa dekade.

Hujan lebat yang dimulai pekan lalu telah berhenti dan surutnya air banjir menyebabkan kerusakan terjadi di bagian barat negara ini.

Di Kota Kurashiki, banjir melanda seluruh distrik pada satu titik, memaksa beberapa orang naik ke atap rumah mereka untuk menunggu penyelamatan.

"Ini yang kami sebut operasi jaringan, di mana kami memeriksa setiap rumah untuk melihat apakah ada orang yang masih terperangkap di dalamnya," kata seorang pejabat dari pemerintah prefektur Okayama setempat kepada AFP.

"Kami tahu sedang berpacu dengan waktu, kami berusaha sekeras yang kami bisa," tuturnya, seperti dikutip dari AFP, Selasa 10 Juli 2018.

Hideto Yamanaka memimpin tim sekitar 60 petugas pemadam kebakaran yang dikirim dari luar prefektur itu untuk mencari korban.

Di distrik Mabi Kurashiki, air menyisakan lumpur kuning halus yang telah mengubah daerah itu menjadi becek.

Mobil mengemudi melalui awan debu yang tersaput. Orang-orang berkeliling mengenakan masker medis atau menutup mulut mereka dengan handuk kecil untuk melindungi diri mereka sendiri terhadap partikel.

Toko-toko masih ditutup, dan di dalam salah satu toko tukang cukur, sofa-sofa merah, kursi-kursi pelanggan, dan pengering rambut semuanya tertutup lumpur.

Fumiko Inokuchi, 61, berada di dalam rumahnya, memilah-milah kerusakan yang disebabkan oleh banjir yang merendam seluruh lantai pertama.

Dia melarikan diri dari rumah pada Sabtu, menyeberang jalan untuk berlindung di rumah penampungan tiga lantai bagi orang tua, dari sana dia menyaksikan dengan ngeri ketika air naik.

Krisis ini adalah bencana terkait hujan paling mematikan dalam lebih dari tiga dekade, dan telah memicu kedukaan nasional.

Pada Senin, Perdana Menteri Shinzo Abe membatalkan perjalanan luar negeri, dan kantornya berkata dia akan mengunjungi Okayama pada Rabu.

Juru bicara pemerintah Yoshihide Suga mengatakan pada Selasa bahwa setidaknya 141 orang telah tewas. Media mengatakan puluhan lainnya masih hilang dan penghitungan diperkirakan akan meningkat lebih lanjut.

Sekitar 75.000 polisi, pemadam kebakaran, dan pasukan telah dikerahkan dalam operasi pencarian dan penyelamatan di seluruh bagian Jepang tengah dan barat, kata Suga. Seraya memperingatkan bahwa cuaca panas menimbulkan risiko baru.

Ribuan orang tetap tinggal di tempat perlindungan, dan pihak berwenang setempat di beberapa daerah menawarkan air minum dan layanan mandi bagi mereka yang tidak memiliki persediaan sendiri.

"Suhu akan menjadi lebih dari 35 Celcius di beberapa area. Harap berhati-hati tentang serangan panas jika Anda melakukan rekonstruksi di luar ruangan, dan terus waspada tentang tanah longsor," kata Suga.

Pemerintah mengatakan akan menyadap sekitar USD20 juta dana cadangan guna memberikan bantuan kepada mereka yang terkena dampak bencana.

Lewat hujan lebat, risiko banjir tetap ada, dengan kota Fuchu di Hiroshima mengeluarkan perintah evakuasi baru ketika sebuah sungai lokal meluap.

Stasiun-stasiun televisi menunjukkan alur sungai berlumpur dan petugas pemadam kebakaran yang berpatroli berteriak melalui pengeras suara: "Daerah ini berbahaya. Evakuasi ke tempat yang lebih tinggi sekarang." 


(WAH)