Diktator Filipina Marcos Dikebumikan di Taman Makam Pahlawan

Arpan Rahman    •    Jumat, 18 Nov 2016 13:26 WIB
filipina
Diktator Filipina Marcos Dikebumikan di Taman Makam Pahlawan
Imelda Marcos mencium peti kaca dari suaminya, Ferdinand Marcos (Foto: AFP).

Metrotvnews.com, Manila: Mantan diktator Filipina Ferdinand Marcos dikebumikan di taman makam pahlawan dengan penghormatan ala militer, Jumat 18 November. Prosesi ini menjadi sebuah langkah sangat kontroversial dalam tiga dekade setelah dia digulingkan dalam revolusi "People Power".
 
Upacara diawali tembakan salvo 21 senapan tentara dalam pakaian parade dan pemimpin upacara berdiri tegak di Cemetery of Heroes di Manila, setelah jenazahnya diterbangkan diam-diam ke pekuburan tersebut dalam upaya menghindari demonstrasi.
 
Mahkamah Agung menyatakan, pekan lalu, bahwa Marcos bisa dikuburkan di taman makam pahlawan. Diktator itu memerintah Filipina selama dua dekade hingga jutaan orang turun ke jalan-jalan di tahun 1986 mengobarkan pemberontakan yang didukung militer. 
 
Putusan itu, mendukung rekomendasi Presiden Rodrigo Duterte, telah menyulut kemarahan banyak penentang rezim Marcos yang mengatakan putusan tersebut akan menutupi berbagai kejahatan sang diktator.
 
Langkah mengejutkan diambil keluarga Marcos dan pemerintah dengan segera menguburnya setelah putusan Mahkamah Agung, sementara sidang banding masih digelar, menyebabkan kemarahan berlanjut.


Penolakan atas pemakaman Marcos sebagai pahlawan (Foto: AFP).
 
 
Barry Gutierrez, pengacara dari pihak pemohon anti-Marcos, mengatakan pemakaman itu ilegal karena banding belum selesai. (Baca: Pengadilan Hentikan Sementara Pemakaman Ferdinand Marcos).
 
"Tidak terlalu mengejutkan bahwa hal ini terjadi. Marcos merendahkan hukum ketika ia masih hidup, dan bahkan di pemakaman, ia masih melanggar hukum," kata Gutierrez kepada AFP, Jumat (18/11/2016). 
 
Polisi hanya mengumumkan bahwa jasad Marcos telah diterbangkan ke pemakaman sesaat sebelum upacara dimulai, meninggalkan para penentangnya yang sudah merencanakan aksi unjuk rasa berjalan kaki.
 
"Kami terkejut dan marah," kata Gutierrez.
 
Ribuan polisi anti huru-hara dan tentara menjaga perimeter pemakaman, tapi tidak ada pengunjuk rasa.
 
Wartawan yang bergegas ke pemakaman dilarang masuk. Namun wartawan mampu melihat upacara lewat lensa kamera panjang dari luar areal.
 
Menjarah dan menyeleweng
 
Marcos memerintah Filipina selama dua dekade sampai dipaksa melarikan diri ke pengasingan Amerika Serikat melalui revolusi "People Power". Pemberontakan damai itu, menginspirasi gerakan demokrasi di Asia dan seluruh dunia.
 
Menurut para penyelidik pemerintah dan kalangan sejarawan, Marcos, beserta istrinya yang flamboyan dan menyandang reputasi buruk, Imelda, dan kroni mereka menjarah USD10 miliarlebih dari kas negara selama pemerintahannya.
 
Diktator itu juga melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang luas demi mempertahankan kekuasaannya dan memungkinkan penjarahannya. Ribuan orang dibunuh dan disiksa, menurut pemerintah Filipina terdahulu.
 
Pemantau anti-korupsi Transparency International pada 2004 menjuluki Marcos pemimpin paling korup kedua sepanjang masa, di belakang mantan pemimpin Indonesia, Soeharto.
 
Utang luar negeri Filipina membengkak dari USD2,67 miliar pada 1972, saat Marcos memberlakukan darurat militer, menjadi USD28,2 miliar pada 1986, menurut Bank Dunia.
 
Setelah Marcos meninggal di Hawaii pada 1989, keluarganya mulai sukses muncul kembali di dunia politik dan mencoba berulang kali mengusulkan dia dikuburkan di taman makam pahlawan, di mana para presiden lainnya dan tokoh militer terkemuka dikebumikan.
 
Imelda menjadi anggota kongres dan menangkis semua tuduhan korupsi terhadap dirinya.
 
Dua dari anak-anaknya memantapkan diri sebagai politisi berpengaruh. Ferdinand "Bongbong" Marcos Junior, lebih sukses, menjadi senator sebelum nyaris memenangkan kursi wakil presiden tahun ini.
 
Namun presiden sebelumnya telah menolak usul penguburannya di taman makam pahlawan lantaran kejahatan Marcos, sehingga keluarganya terus mengawetkan jasadnya dalam peti kaca di rumahnya di Provinsi utara Ilocos Norte.
 
Nasib keluarganya berubah dengan terpilihnya Duterte, sekutu lama keluarga Marcos, sebagai presiden pada Mei tahun ini.
 
Ia mengatakan Marcos pantas dimakamkan di taman pahlawan berdasarkan fakta ia pernah menjadi presiden dan seorang veteran Perang Dunia II.
 
Duterte juga mengatakan ia berutang kesetiaan kepada keluarga itu karena ayahnya bertugas di pemerintahan Marcos dan keluarga itu juga telah membantu mendanai kampanye pemilihan presiden.

(FJR)